Porsi pembiayaan industri kelapa sawit masih kurang dari lima persen.

Bank Muamalat Indonesia baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan pengelolaan kelapa sawit Duta Mentari Raya kemarin, Selasa (20/9). Kendati harga komoditas masih agak bergejolak, industri kelapa sawit dinilai memiliki prospek yang lebih cerah dibanding komoditas lainnya.
Direktur Bisnis Korporasi Bank Muamalat Indonesia Indra Y Sugiarto mengakui, harga komoditas masih fluktuatif. “Namun, bagi Bank Muamalat untuk industri kelapa sawit, apalagi crude palm oil, kebutuhannya tetap banyak karena ini adalah bahan pokok untuk sampo, sabun odol dan lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika dibanding komoditas lainnya seperti batubara, harga kelapa sawit pun sudah meningkat. “Walau harga kelapa sawit masih bergejolak, dibanding tahun lalu sekarang sudah meningkat. Kami lihat peningkatannya cukup bagus jadi kami percaya diri dengan industri ini,” tukas Indra.
Bank Muamalat pun menargetkan peningkatan porsi pembiayaan ke industri kelapa sawit. Indra menyebutkan, saat ini portofolio pembiayaan ke industri tersebut masih kurang dari lima persen dari total pembiayaan korporasi sebesar Rp 21 triliun. “Sampai akhir tahun kami menargetkan porsinya mencapai 7,5 persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, dari sisi rasio pembiayaan bermasalah (non performing finance/NPF) untuk penyaluran pembiayaan ke industri kelapa sawit pun masih terjaga dengan baik. “NPF khusus korporasi sekarang sekitar tiga persen, itu hampir sama dengan rata-rata industri. Namun, untuk industri kelapa sawit Alhamdulillah NPF masih nol persen,” papar Indra.
Sampai akhir tahun Bank Muamalat menargetkan penyaluran pembiayaan tumbuh antara 5-7 persen. “Kami lihat pasar sekarang agak melambat jadi kami samakan dengan target BI untuk pertumbuhan perbankan 7-9 persen. Kami tidak mau terlalu agresif untuk meningkatkan pertumbuhan pembiayaan karena yang oenting adalah pembiayaan yang baik, maka kami sangat berhati-hati dalam mengucurkan pembiayaan ke nasabah,” jelasnya. Saat ini total pembiayaan Bank Muamalat tercatat sebesar Rp 40 triliun.

