Bank Muamalat mencatat pertumbuhan (year on year) 17-20 persen per Mei 2014. Laju pertumbuhan tersebut masih sesuai dengan target bisnis di tahun ini, sehingga bank syariah pertama ini pun belum akan merevisi rencana bisnis di tahun ini.
Direktur Utama Bank Muamalat, Arviyan Arifin, mengatakan pertumbuhan di tahun ini masih sejalan dengan target pertumbuhan Bank Indonesia. “Belum ada revisi rencana bisnis karena masih yakin akan bisa mencapai target di tahun ini,” ujar Arviyan, usai topping off Muamalat Tower, Rabu (18/6).

Hendiarto menuturkan salah satu penyebab laba tertekan adalah karena beban biaya dana yang semakin tinggi. Saat tekanan dari biaya dana berkurang, maka tak menutup kemungkinan pihaknya akan bisa ekspansi lagi ke sektor yang lebih selektif sehingga dapat bersaing di level lokal dan global. Beberapa sektor yang dibidik adalah ekspor (trade finance), konsumer dan usaha kecil dan menengah. Bank Muamalat pun akan tetap mempertahankan rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (financing to deposit ratio/FDR) di kisaran 95-97 persen. Hingga Mei 2014 FDR Bank Muamalat sebesar 96 persen.
Berdasarkan rencana bisnis bank tahun 2014, Bank Muamalat akan menambah empat kantor cabang, 48 kantor cabang pembantu, dan satu unit kantor kas. Selain itu, Bank Muamalat akan menetapkan status cabang devisa di delapan unti kantor cabang. Total pembukaan jaringan kantor layanan di tahun 2014 adalah 53 unit. Di tahun ini, Bank Muamalat juga merencanakan penambahan mesin ATM sejumlah 1000 unit, sehingga di akhir 2014 akan ada lebih dari 2000 ATM.
Kantor Cabang Bank Muamalat Malaysia
Sementara, berbicara mengenai bisnis kantor cabang Bank Muamalat di Kuala Lumpur, Hendiarto mengungkapkan kantor tersebut menjadi bagian dari rencana pihaknya untuk berkiprah di level Asia Tenggara pada 2020. “Dalam waktu dekat belum ada rencana untuk menambah kantor cabang di luar negeri. Sekarang ini kami ingin memperkuat dulu kinerja kantor cabang di Kuala Lumpur,” ujarnya. Aset kantor cabang Bank Muamalat di negara jiran sebesar 200 juta dolar AS dengan return on asset 2,4 persen.
Ia pun meyakini bisnis di kantor cabang tersebut bisa semakin berkembang jika bisa menambah jaringan ATM dan intenet banking. Sayangnya, memang kini operasional kantor tersebut masih terbatas pada regulasi Bank Negara Malaysia, dimana bank asal luar negeri hanya dibatasi untuk bertransaksi dalam mata uang non ringgit. “Kantor di Kuala Lumpur untuk mencari off shore funding karena lebih murah dan juga untuk mengakomodasi lembaga Malaysia yang memiliki bisnis di Indonesia,” jelas Hendiarto.

