bank sampah mangrove

Bank Sampah Bintang Mangrove: Bayar Listrik Hingga Berobat Pakai Sampah

[sc name="adsensepostbottom"]

Aneka jasa keuangan disediakan Bank Sampah Bintang Mangrove. Simpan pinjam hingga jasa pembayaran. Bayarnya pakai sampah. Kok bisa?

bank sampah mangrove

Bayar rekening listrik dengan sampah? Saat ini bukan hal yang mustahil. Setidaknya, warga Kelurahan Gununganyar Tambak, Kecamatan Gununganyar Surabaya sudah membuktikan hal itu, setelah Bank Sampah Bintang Mangrove mulai beroperasi di wilayah tersebut, 2011.

Bagaimana caranya? Pelanggan listrik cukup menyetorkan sampah yang bisa di daur ulang seperti plastik kemasan minuman, kertas bekas, barang barang logam bekas dan lainnya ke bank sampah.

Sekadar tahu saja, Bank Sampah merupakan metode pengelolaan sampah dengan mengadopsi konsep perbankan. Bedanya, nasabah menabung dengan menyetor sampah. Limbah yang disetor dikonversikan dalam bentuk tabungan dan diserahkan ke nasabah di saat mereka hendak membayarkan tagihan listrik bulanan.

Sistem pembayaran ini tidak lepas dari kontribusi Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk menjaga lingkungan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) nya. Sebelumnya, kata Chusniyati, program bank sampah ini tidak terpikirkan sama sekali.

Berawal dari Lingkungan
Pada tahun 2011, wilayah Gununganyar yang merupakan pesisir timur Surabaya dipenuhi tanaman mangrove. Tetapi pertumbuhannya tidak berlangsung dengan baik. Kondisi itu diperparah dengan lingkungan di sekitar hutan mangrove yang penuh dengan sampah rumahtangga yang dibuang ke sungai hingga bermuara ke laut yang kemudian terbawa arus kembali ke kawasan hutan mangrove.

Saat itu wanita yang akrab dipanggil Khus ini bersama beberapa orang berusaha membersihkan sampah-sampah tersebut secara sukarela. “Kita prihatin, kawasan pesisir sangat kotor oleh sampah plastik dan sampah rumahtangga, ya kita bersihkan aja biar mangrovenya tumbuh dengan baik,” ungkapnya kepada mysharing.

Akhir 2011, PLN dengan program CSR nya memberikan bantuan. Karena sifatnya bantuan, maka dipikirkanlah bersama tokoh masyarakat setempat agar bantuan ini bisa dipergunakan jangka panjang. Akhirnya muncul ide untuk mendirikan Bank Sampah Bintang MangroveGununganyar Surabaya.

Dibuatlah bangunan tidak permanen yang berfungsi sebagai base camp pengumpulan sampah-sampah dari pesisir pantai timur Surabaya dan sampah rumahtangga. Namun persoalan muncul. Darimana ongkos untuk biaya operasional dan perputaran keuangan bank? Syukurlah kemudian ada bantuan dari kelurahan Gununganyar Tambak sebesar Rp 400 ribu dan PLN Rp 2 juta.

Dalam waktu 2 tahun, omzet Bank Sampah Bintang Mangrove tumbuh pesat. Jika modal awalnya sebesar Rp 2.4 juta, maka tahun 2014 sudah bertambah Rp 20 juta. Dari jumlah itu, saldo di kas hanya ada Rp 9 jutaan, Rp 11 jutaan lainnya dipergunakan untuk biaya kebersihan dan penataan lingkungan di kawasan Gununganyar Tambak, berupa pengadaan bak sampah, penghijauan lingkungan dan pemeliharaan lingkungan. Kebutuhan perbaikan lingkungan ini jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga yang membantu bank sampah.

“Awalnya pengurus yang bergabung banyak, tetapi sejalan dengan perjalanan waktu akhirnya tinggal beberapa orang, karena memang bank sampah ini konsepsnya lebih dekat pada kegiatan sosial,” tambahnya

Perubahan Perilaku
Yang membanggakan bagi pengurus Bank Sampah ini adalah perubahan perilaku masyarakat sekitarnya. Lingkungan menjadi lebih bersih, masyarakat tidak lagi membuang sampah di sungai dan yang lebih penting lagi adalah mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Baik mereka yang bekerja di lingkungan pesisir maupun yang bekerja di kantoran.

Dicontohkan, saat ini para nelayan tidak hanya mencari ikan, merekapun memunguti sampah-sampah yang ditemuinya di laut terutama sampah kemasan minuman dari plastik. Bahkan ketika musim hujan, pendapatan memungut sampah jauh lebih besar dibandingkan penghasilan sebagai nelayan. Sehingga muncul guyonan, kalau tidak dapat ikan, sampahpun jadi.

Demikian juga dengan mereka yang tinggal di sekitar sungai, jika ada sampah yang tersangkut di sekitar rumah mereka, maka sampah-sampah tersebut akan dipungut dan dikumpulkan selanjutnya disetorkan ke Bank Sampah sebagai tabungan. Sehingga sungai menjadi bersih dan masyarakatpun dapat pemasukan.

Warga lainnya yang bekerja sebagai petugas keamanan maupun pedagang, juga sudah tidak malu dan turut mengumpulkan sampah di tempat kerjanya untuk disetorkan ke Bank sampah sebagai pemasukan tambahan. Bahkan jika ada hajatan atau pengajian, maka sampah bekas kemasan minuman akan dikumpulkan kembali oleh tuan rumah selanjutnya disetor ke Bank Sampah.

Tak sedikit warga yang sangat terbantukan oleh program ini. Contohnya, ada lansia yang bisa meraih penghasilan Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu per bulan dari bank sampah. Ada juga tenaga keamanan yang pendapatannya Rp 600 ribu per bulan hanya dari mengumpulkan sampah di kantornya. “Sejak awal kita memang ingin memberikan dampak positif bagi masyarakat terutama di bidang lingkungan hidup,” tambahnya lagi.bank sampah mangrove

Berobat Bayar Sampah
Program lainnya dari usaha bank sampah ini adalah biaya pengobatan. Khusus untuk berobat dengan sampah ini ada dua jenis kegiatan. Pertama, kata Chusniyati, warga yang sakit dan membutuhkan biaya pengobatan dapat menggunakan uang di Bank sampah untuk pemeriksaan kesehatan maupun pembelian obat-obatan. Selanjutnya, pengembaliannya dilakukan dengan sampah. Kedua, jika ada warga sakit dan perlu dijenguk, maka uang bantuan sosial yang diserahkan ke penderita berasal dari uang Bank Sampah. Sehingga unsur sosial Bank Sampah ini sangat kuat.

Simpan Pinjam
Bank Sampah Bintang Mangrove ini juga memiliki kegiatan simpan pinjam yang sudah dinikmati 185 orang nasabah. Dana tersebut dimanfaatkan nasabah untuk membiayai kebutuhan bayar sekolah atau kebutuhan hidup lainnya dengan pinjaman maksimum Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu, tergantung tingkat kebutuhan nasabah. Memang belum terlalu besar tetapi warga yang terbantu oleh dana simpan pinjam ini semakin banyak.

Kredit dibayar dengan menyerahkan sampah yang dapat didaur ulang terutama sampah rumah tangga. Yang lebih meringankan adalah tidak adanya batas waktu pengembalian pinjaman tadi. Berapapun sampah yang terkumpul dianggap sebagai cicilan atas kredit yang diberikan.

Jika dilihat kasat mata di Bank Sampah ini seperti tidak ubahnya sebagai pengepul barang barang bekas, karena di sana terdapat tumpukan kemasan plastik minuman berupa botol maupun gelas. Terdapat juga karung-karung yang didalamnya terdapat barang rumah tangga berbahan plastik maupun logam aluminium dan besi. Terdapat juga tumpukan kertas bekas dan kertas koran.

Tetapi bagi Chusniyati dan para pengurus yang lain, keberadaan Bank Sampah ini sangat berbeda dengan pengepul barang bekas. Kalau pengepul mereka hanya menerima barang-barang sesuai dengan usaha mereka sendiri, tetapi bank sampah menerima semua jenis sampah yang dapat di daur ulang. Yang membedakan lagi dari pengepul, adalah sebagian besar pemasukan Bank Sampah kembali dinikmati lagi oleh masyarakat. Salah satunya dalam bentuk penataan lingkungan.

Bagaimana Bank Sampah mampu mengelola kegiatannya sehingga tetap eksis dengan omzet yang terus berkembang? Menurut Chusniyati, sampah yang sudah dipilah-pilah dijual kepada para pengepul yang berani membeli dengan harga terbaik. Bank Sampah tidak mau terikat terhadap satu dua pengepul meski pengepul tersebut berani memberikan uangnya di muka. Itu dilakukan agar proses jual belinya tergantung harga pasar yang terbaik saat itu.

Yang menarik dari perkembangan Bank Sampah Bintang Mangrove adalah mereka sudah berkembang menjadi ‘pengepul’ bank sampah-bank sampah “kecil” yang baru dibentuk di sekitarnya. Tidak sedikit barang-barang bank sampah kecil memilih menjual ke Bank sampah Bintang Mangrove karena harganya lebih mahal. “Kita membantu bank sampah lainnya agar mereka tetap berjalan dan itu akan baik untuk lingkungan sekitar,”. tambahnya lagi.

Yang masih menjadi pikirannya adalah bagaimana memberikan kompensasi yang lebih baik kepada tenaga operasional di Bank Sampah Bintang Mangrove. Maklum saja, karena sifatnya sosial maka honor pengelola tidak lah besar. Itu pun ada ketentuan, yaitu honor hanya diberikan kepada mereka yang bekerja. Meskipun menjadi pengurus, tetapi bila bulan berjalan tidak membantu atau bekerja maka otomatis tidak mendapatkan honor.

Maka untuk menyemangati para pengelola, setiap menerima rombongan tamu maka urusan konsumsi diserahkan kepada pengelola termasuk juga penjualan souvenir yang dibuat dari sampah daur ulang.