Bank syariah
Jajaran direksi Bank Syariah Bukopin dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, Rabu (26/3).

Bank Syariah Bukopin akan Fokus ke Pembiayaan Mikro

[sc name="adsensepostbottom"]
Bank syariah
Jajaran direksi Bank Syariah Bukopin dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, Rabu (26/3).

Bank Syariah Bukopin (BSB) akan memfokuskan diri pada segmen mikro di 2014. Layanan pembiayaan mikro kini tidak hanya terbatas pada step loan atau linkage program, tetapi juga akan dilakukan secara langsung kepada nasabah.

Direktur Utama BSB, Riyanto, mengatakan di tahun 2013 BSB membukukan pembiayaan mikro sebesar Rp 200 miliar. “Di tahun ini kami mulai masuk ke segmen yang di 2013 belum secara optimal dimasuki, diantaranya masuk ke mikro dan itu akan menjadi core bisnis kami ke depan,” kata Riyanto, Rabu (26/3). Di 2014 BSB menargetkan mikro tumbuh 100 persen menjadi Rp 400 miliar Secara keseluruhan pembiayaan ditargetkan tumbuh antara 25-30 persen di tahun ini, atau naik antara Rp 800 miliar sampai dengan Rp 1 triliun. Di tahun 2013 BSB mencatat pembiayaan sebesar Rp 3,2 triliun.

Untuk mendukung pertumbuhan pembiayaan BSB juga akan terus berekspansi dengan menambah jaringan outlet. Di tahun ini direncanakan ada penambahan tiga kantor cabang di Pekanbaru, Palembang dan Denpasar, dan beberapa kantor cabang pembantu di Bandung, Surabaya, dan Makassar. Namun, Riyanto menuturkan kantor cabang tersebut akan disesuaikan dengan ketentuan BUKU dan peraturan OJK.

Sementara, untuk pembiayaan gadai dan kepemilikan emas masih mencatat nilai penyaluran yang rendah. Riyanto mengungkapkan sejumlah kendala pengembangan bisnis gadai, diantaranya adalah pasar gadai di bank syariah relatif belum bisa bersaing secara maksimal dengan Pegadaian dan lembaga gadai tidak resmi lainnya. Pihaknya pun menilai gadai emas di perbankan minatnya relatif tidak sebesar pada saat bisnis gadai di bank syariah dulu. “Dengan adanya ketentuan baru soal gadai, kami melihat bank kalah bersaing dengan lembaga gadai tidak resmi jadi orang lebih suka gadaikan ke toko emas. Kenapa? Karena produk gadai emas di bank diatur sangat ketat sementara beberapa lembaga lain di luar bank mereka tidak ada aturan. Jadi kami melihat gadai emas masih blm bisa maksimal berhadapan dengan lembaga lain yang aktif di jasa pegadaian,” jelas Riyanto.

Kontribusi gadai terhadap pendapatan juga tak besar, yaitu sekitar 10 persen, dengan outstanding pembiayaan di bawah Rp 5 miliar. “Dari sisi kontribusi terhadap pendapatan berbasis upah, gadai belum menjadi produk unggulan. Jadi belum secara khusus menargetkan produk ini sebagai produk untuk memaksimalkan profit di bank syariah, masih sifatnya untuk melengkapi jasa layanan,” tukas Riyanto.

Saat ini layanan outlet gadai baru terbatas di satu outlet BSB yang berada di Melawai, Jakarta Selatan. Rencananya ke depan BSB akan memperluas outlet gadai di kantor cabang lainnya untuk memberikan layanan maksimal kepada nasabah. Di tahun ini target tentatif bisnis gadai syariah BSB antara Rp 10 miliar-Rp 15 miliar.

Di sisi rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (financing to deposit ratio/FDR) BSB pun akan menjaga di atas level 90 persen. Di tahun 2014 FDR BSB tercatat sebesar 100,2 persen. “Dalam situasi margin di pasar sedang naik, kita tidak bisa menekan FDR jadi rendah karena terkait dengan profitnya dan margin yang dibagi ke nasabah, jadi FDR tidak bisa terlalu kecil,” papar Riyanto. Saat ini BSB pun sedang menunggu proses persetujuan penambahan modal dari OJK sebesar Rp 100 miliar. Modal BSB sekarang tercatat sebesar Rp 355 miliar.