Bank Syariah Bukopin Bidik Pertumbuhan 20-30 Persen

[sc name="adsensepostbottom"]

Bank Syariah Bukopin gencarkan program tabungan berhadiah.

bukopin-300x217-1Pada 2015 rata-rata bank syariah mengalami perlambatan pertumbuhan. Namun di tengah perkiraan belum akan pulihnya perekonomian sepenuhnya di tahun ini, Bank Syariah Bukopin tetap optimis menghadapinya. “Ke depan kami menargetkan pertumbuhan 20-30 persen di sisi aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga. Meski belum lepas dari persoalan ekonomi di 2015, kami memproyeksikan 2016 akan tetap bagus,” kata Direktur Utama Bank Syariah Bukopin Riyanto dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham, Rabu (23/3).

Salah satu langkah yang dilakukan untuk mencapai target adalah meningkatkan jumlah dana murah melalui program tabungan berhadiah. Riyanto mengatakan, di tahun ini pihaknya menargetkan dana murah tumbuh sekira 50 persen, atau sebesar Rp 600 miliar. “Ke depan kami menargetkan dari program tabungan berhadiah bisa berkontribusi Rp 300 miliar atau 50 persen,” ungkapnya.

Sementara, di sisi pembiayaan Bank Syariah Bukopin akan tetap fokus pada sektor-sektor andalannya. Diantaranya adalah perdagangan, kesehatan (rumah sakit), pendidikan, transportasi dan konsumer. “Kami terus memacu pembiayaan ke sektor produktif, seperti pembiayaan modal kerja murabahah dan musyarakah untuk jasa dunia usaha, perdagangan, konstruksi dan industri,” papar Riyanto.

Direktur Bisnis Bank Syariah Bukopin Aris Wahyudi menambahkan, untuk penyaluran pembiayaan di tahun ini pihaknya akan fokus pada bisnis yang tetap tumbuh positif dan menghindari sektor yang sedang kurang baik. “Kami incar bisnis yang tetap tumbuh seperti pendidikan dan kesehatan, dan mengurangi penyaluran ke perusahaan pembiayaan dan minyak dan gas,” jelasnya.

Pada tahun lalu, pembiayaan Bank Syariah Bukopin tercatat naik 16,07 persen menjadi Rp 4,31 triliun. Mayoritas pembiayaan tersebut disalurkan ke perdagangan dengan porsi sebesar 20 persen. Sementara, aset naik 12,92 persen menjadi Rp 5,83 triliun dan DPK tumbuh 19,06 persen menjadi Rp 4,76 triliun.