Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) selalu berupaya mencari alternatif untuk memberikan bantuan kepada Muslim Rohingya.
Deputi Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas, Arifin Purwakananta tidak khawatir dengan kebijakan pemerintah Myanmar saat ini yang telah memblokade seluruh bantuan dari negara-negara lain. Menurutnya, sejauh ini Baznas tidak pernah mengalami kesulitan untuk masuk ke Myanmar membantu para korban konflik etnis Muslim Rohingya.
“Kami menyalurkan bantuan melalui atau berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, bersama-sama Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) dan di sana kami sudah turun bekerja sama dengan mitra di sana. Jadi kebetulan kalau Baznas tidak ada kesulitan,” ungkap Arifin kepada MySharing ditemui usai konferensi pers World Zakat Forum (WZF) di Gedung Arthaloka, Jakarta, Senin (4/9).
Arifin menuturkan, bahwa untuk masuk ke Rakhine, Myanmar, saat ini bukan hal yang mudah. Namun demikian, Baznas mencoba menyiasati masuk ke Myanmar dengan cara tidak menyasar Rakhine, lokasi etnis Rohingya, secara langsung.
- KB Bank Syariah Gelar Aksi CSR Serentak, Perkuat Kontribusi Sosial se-Indonesia
- Sambut Idulfitri 1447 H, Bank Muamalat Optimalkan Layanan Kantor Cabang dan Digital
- Royco dan Masjid Istiqlal Berbagi Kelezatan untuk Hangatkan Momen Kebersamaan di Ramadhan
- BSI Fasilitasi UMKM Go Digital dan Go Global Melalui Ajang Expo
Dirinya menegaskan, memang dalam konteks geopolitik dan perkembangan terkini di Myanmar, untuk menembus ke Rakhine memang sulit. Untuk itu, Baznas berupaya mencari alternatif lain agar bisa ditembus oleh Kementerian Luar Negeri.
“Ya, mungkin karena menteri (menlu) kita seorang wanita dan penguasa Myanmar itu seorang wanita juga, dan lain sebagainya, mungkin juga pemerintah Indonesia melakukan pendekatan-pendekatan yang mudah ditembus. Misalnya tidak melakukan pendekatan dengan penekanan mungkin, tapi fokus pada kemanusiaannya,” ujar Arifin.
Seperti diketahui, Myanmar telah memblokir semua bantuan dari badan PBB yang selama ini memberikan pasokan makanan, air, dan obat-obatan kepada ribuan warga sipil yang putus asa di tengah kampanye militer berdarah di Myanmar.
Pengiriman bantuan tersebut ditangguhkan karena alasan keamanan dan adanya larangan kunjungan oleh pemerintah. Pihak berwenang juga tidak memberikan izin operasi kepada badan bantuan, sehingga pengiriman pun terpaksa tertunda. “Alhamdulilah Baznas bisa melalui masa sulit masuk ke Rakhine, dan akhirnya bisa memberikan bantuan untuk Muslim Rohingya,” pungkas Arifin.

