Rasio pembiayaan bermasalah terjaga di bawah satu persen.
Presiden Direktur BCA Syariah John Kosasih mengatakan, secara rata-rata BCA Syariah tumbuh sebesar 27 persen year-on-year. Per September 2016, posisi total aset BCA Syariah mencapai Rp 4,6 triliun, atau meningkat 25,68 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 3,6 triliun.
Sementara, dana pihak ketiga naik 33,63 persen menjadi Rp 3,4 triliun dari periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 2,6 triliun, dan pembiayaan naik 27,7 persen dari Rp 2,6 triliun pada September 2015 menjadi Rp 3,39 triliun per September 2016. “Jadi secara total pertumbuhannya masih diatas rerata industri,” cetusnya, Senin (28/11).
- Perkuat Ekosistem Haji, Bank Muamalat Gandeng Harakah Majelis Taklim Edukasi Perencanaan Keuangan Syariah
- CIMB Niaga Business Summit 2026 Usung Vision Made Possible Dukung Perusahaan Indonesia Tumbuh Berkelanjutan
- Prudential Syariah Luncurkan Asuransi Jiwa PRUCare 360 Syariah
- Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak Signifikan, Tembus Rp1,9 Triliun
Sampai akhir 2016, ia pun optimis sisi pembiayaan akan mencapai antara Rp 3,6 triliun-Rp 3,7 triliun. Dari total pembiayaan BCA Syariah di tahun ini sekitar 25 persen disalurkan untuk usaha mikro, kecil dan menengah. Tercatat ada sekira 1000 nasabah UMKM di BCA Syariah. “Untuk rasio portofolio pembiayaan UMKM sudah melebihi dari ketentuan regulator,” tukas John.
Di sisi rasio pembiayaan bermasalah pun terjaga dengan baik, tercermin pada NPF nett yang sebesar 0,33 persen di akhir September 2016. Sementara, laba sebelum pajak per September 2016 juga meningkat dibanding periode sama tahun lalu, yaitu tumbuh sebesar 57,06 persen menjadi Rp 32,12 miliar.
Saat ini BCA Syariah memiliki 49 jaringan kantor dan unit. Jaringan kantornya terdiri dari sembilan kantor cabang, sembilan kantor cabang pembantu, enam kantor cabang pembantu Bina Usaha Rakyat, 26 unit layanan syariah dan enam kantor fungsional Bina Usaha Rakyat yang berada di Jabodetabek, Bandung, Solo, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya.


