Bedah Buku “Politik Islam, Ancaman dan Strategi Penangulangan Terorisme”

[sc name="adsensepostbottom"]

Indonesia masih berpotensi melahirkan anggota-anggota teroris baru.

Menghadapi fenomena aksi terorisme di dunia termasuk di Indonesia,  memicu banyaknya akses-akses yang ditimbulkan oleh aksi tersebut. Upaya menangani aksi terorisme tersebut, Staf ahli Badan Nasional Penanggungan Terorisme (BNPT) Sri Yunanto, membedahnya melalui dua buah buku berjudul “Politik Islam Antara Moderasi dan Radikalisme dan Ancaman dan Strategi Penanggulangan Terorisme Di Dunia dan Indonesia”.

Isi kedua buku ini, mengisahkan sejauhmana  perkembangan terorisme di dunia internasional dan pengaruhnya terhadap Indonesia serta ancaman apa yang kini tengah melanda masyarakat Indonesia, dan dunia pada khususnya. Bahkan  erat kaitannya dengan ancaman politik Islam dalam kaitannya dengan penanggulangan aksi-aksi terorisme di Indonesia.

“Persoalan teroris di Indonesia, masih ada,  kemunculan nama-nama baru masih berkaitan dengan anggota teroris lama, bahkan warisan”, ujar Sri Yunanto dalam seminar dan bedah buku “Ancaman dan Strategi Penanggulangan Terorisme di dunia dan Indonesia” di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas FISIP Universitas Indonesia, Depok, Selasa (7/3).

Sri pun mencontohkan, anggota teroris yang berhasil di lumpuhkan di Solo, adalah anak dari seorang anggota teroris lama. Ini warisan aksi terorisme dari sang ayah, yang kemudian dilakukan juga oleh anaknya.

Dalam bedah buku itu, Sri menyebutkan jika saat ini Indonesia masih masuk dalam kategori ‘warna kuning’. “Artinya Indonesia masih berpotensi besar untuk melahirkan anggota-anggota teroris baru, walaupun pihak keamanan sudah dianggap sangat ketat dalam memerangi terorisme,” ujarnya.

Hal tersebut jelas dia, tertuang dalam hasil survey yang dilakukan oleh Global Terorisme Index, dan sebagai wilayah kuning, Indonesia menduduki peringkat 33 dengan nilai skor 4.76, yang berada di bawah beberapa negara.

“Masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Irak, Afghanistan dan Nigeria, namun tidak lebih buruk dibandingkan dengan Malaysia, Tunisi dan Ethiopia, yang memiliki skor 3,5 sampai dengan 3,6 dengan peringkat 47-50,” papar Sri.

(Ki-ka) : Benny Mamoto, Sri Yunanto, dan Riefqi Muna dalam seminar dan bedah buku Ancaman dan Strategi Penangulangan Terorisme di Dunia dan Indonesia, di FISIP UI Depok, Selasa (7/3). Foto: MySharing

[bctt tweet=”Peneliti: Indonesia berpeluang lahirkan teroris baru!” username=”my_sharing”]

Kedua buku karya Sri Yunanto ini yakni sebuah gambaran intektual, yang mensurvei ancaman potensial dan rill terorisme di beberapa negara di seluruh dunia dan Indonesia, serta menganalisa strategi negara-negara tersebut.Buku ini bukan hanya membahas masalahnya tetapi menyajikan solusi, dan tidak sekedar membahas penyakitnya tetapi juga obatnya.