Terkait Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di berbagai industri, Gerakan Buruh Indonesia (GBI) akan menggiring sekitar 48 ribu buruh ke Istana Negara besok, Selasa (1/9).

Iqbal mengatakan aksi ini untuk menyuarakan hak buruh yang semakin terancam akan adanya PHK sebagai imbas dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
Ia memperkirakan hampir 100 ribu buruh akan terkena PHK karena industri yang bergerak di sektor riil mengalami perlambatan ekonomi.
- CIMB Niaga Syariah Perluas Akses Layanan Perbankan Syariah di Bogor, Resmikan Digital Branch
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
“Ancaman PHK ini datang dari tiga kategori perusahaan, yakni perusahaan yang benar-benar tutup dan harus mem-PHK-kan buruh, perusahaan yang tidak tutup tapi mengurangi jumlah karyawan dan perusahaan berpotensi melakukan PHK,” kata Iqbal.
Perusahaan yang tutup ini, sambung Iqbal, bergerak di industri padat karya.
Setidaknya ada 60 ribu buruh tercatat dalam Aosisasi Pertekstilan Indonesia yang mengalami PHK sejak satu bulan sebelum lebaran.
Sementara itu, untuk perusahaan yang berpotensi melakukan PHK biasanya merumahkan para pekerja atau mengurangi jam kerja, bahkan meniadakan jam lembur.
Aksi buruh serentak pada 1 September 2015 ini juga akan dilakukan di 20 provinsi seperti di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah Jawa Timur, Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan lain-lain.
Di luar DKI Jakarta, aksi akan dipusatkan di kantor gubernur masing-masing daerah.

