Berdasarkan data astronomi, Kamis (28/5), bayang-bayang benda yang berdiri tegak akan mengarah tepat ke kabah.

Menurutnya, peristiwa semacam ini sering dikenal dengan nama Rashdul Qiblah, yaitu ketentuan waktu di mana bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk arah kiblat. Sehubungan itu, kaum Muslimin dan pengurus takmir masjid atau mushala yang akan memverifikasi kesesuaian arah kiblat, dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut ini:
Pertama, menentukan lokasi masjid, mushala, langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya. Sedaikan tongkat lurus panjang 1-2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio, televisi atau internet.
Kedua, cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang masih mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut, serta memiliki permukaan tanah yang datar. Pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul. Persiapan jangan terlalu mendekati waktu terjadinya rashdul qiblat agar tidak terburu-buru.
Ketiga, saat rashdul qiblat berlangsung amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2 menit). Di Indonesia peristiwa rashdul qiblat terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke timur. Sedangkan bayangan yang menuju ke arah barat agak serong ke utara merupakan arah kiblat yang tepat.
Keempat, gunakan tali, susunan tegel lantai, atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid atau rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan.
Mukhar menambahkan, bahwa selain tongkat lurus, menara, sisi selatan bangunan masjid, tiang listrik, tiang bendera atau benda lain yang tegak juga bisa digunakan untuk melihat bayangan. “ Bisa juga dengan teknik lain, misalnya bandul yang digantung menggunakan tali sepanjang beberapa meter. Maka bayangannya dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat,” jelasnya.

