Pendiri Bina Swadaya, Bambang Ismawan (batik coklat) pada konferensi pers di Philanthropy Building, Jakarta, Kamis (14/9). foto:MySharing.

Bina Swadaya : Orang Miskin Indonesia Bukan Peminta

[sc name="adsensepostbottom"]

 

Di Indonesia, pengusaha mikro adalah orang miskin yang aktif secara ekonomi.

Pendiri Bina Swadaya, Bambang Ismawan mengatakan, dalam survey kewirausahaan yang dilakukan BBC London pada tahun 2011, Indonesia dinilai sebagai negara nomor satu kewirausahaannya, disusul Amerika Serikat (AS) dan Kanada.

“Dalam pembahasan publik di sebuah stasiun televisi swasta, Bina Swadaya, Britisch Council, dan Guinness Foundation akhirnya sepakat, orang miskin Indonesia bukan meminta-minta, tapi orang yang sibuk menghidupi diri,” kata Bambang, di Philanthropy Building, Jakarta, Kamis ( 14/9).

Dikatakan Bambang, Indonesia mempunyai  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di dalamnya ada rumusan UKM, dan menurut Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM Indonesia mencapai 57,1 juta.

Sebanyak 57,1 juta unit usaha ini lazim dijumpai sehari-hari, seperti pedagang keliling yang sebarannya dari desa hingga perkotaan. “Di Indonesia, pengusaha mikro adalah orang miskin yang aktif secara ekonomi,” kata Bambang.

Menurutnya, para pengusaha mikro berusaha menghidupi diri dengan usaha sendiri dan mereka tetap bisa disebut pengusaha. Definisi pengusaha sendiri adalah pengambil risiko atas keputusan usaha mereka.

Ada teori menyebutkan, bahwa sebuah negara akan maju bila jumlah pengusahanya sekitar dua persen dari total penduduk.“Dari komposisi, usaha mikro mencapai 98,8 persen, dari entitas usaha yang ada. Mereka itu pengusaha miskin yang mati-matian bertahan,” kata Bambang. .

Dirinya menjelaskan, Bina Swadaya adalah lembaga masyarakat yang mempromosikan usaha sosial melalui pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan keberdayaan pengusaha mikro. “Kami ingin pembangunan memberdayakan dan mensejahterakan rakyat,” tegasnya.

Bersama Dompet Dhuafa, Bina Swasdaya bergabung dalam Instutute of Social Enterpreneurship in Asia (EISEA). ISEA ingin para pengusaha mikri menjadi tuan rumah dalam pembangunan ekonomi di negaranya.

Kondisi pengusaha mikro di negara-negara yang bergabung dalam ISEA mempunyai kemiripan. Oleh karena itu, ISEA menggelar Forum bersama untuk saling bertukar pandangan dan pengalaman dalam Social Enterpise Advocary and Leveranging (SEAL). ”ISEA adalah forum saling belajar. Sebab memberdayakan masyarakat tidak ada sekolah atau mata kuliahnya,” jelas Bambang, .

Dia menyampaikan, rencananya ISEA akan melaksanakan konferensi Social Enterprise Advocacy and Leveraging (SEAL) ke dua di Bali pada 26-30 September 2017 mendatang. Pada tahun 2014, forum serupa pernah digelar di Manila, Filipinan.