Dengan tergerusnya capital and adequancy ratio (CAR) 2 persen-2,5 persen setiap tahunnya, BNI Syariah membutuhkan tambahan modal. Go public pun menjadi pilihan untuk memperkuat permodalan.

Menurutnya, dengan tergerusnya Car 2 persen-2,5 persen setiap tahunnya. Itu berarti BNI Syariah harus memperbaiki pertumbuhannya dengan menambah modal minimal tahun 2016 atau 2017. ”Kami akan tanya ke induk BNI Tbk, mau enggak nambah modal?Ya kalau enggak kita go public,” kata Dinno, di saat ditemui di Hotel Ritz Cartel Pacific Place Jakarta, Rabu (15/4). Baca: BNI Syariah Terbitkan Sukuk Mudharabah
CAR BNI Syariah, kata Dinno, sejak mendapatkan kucuran dana sebesar Rp 500 miliar dari induk BNI Tbk, posisinya Car-nya di angka 18,5 persen dengan pertumbuhan 25 persen. Namun saat ini, posisi Car BNI Syariah berada di angka 15,8 persen.
- BMM dan Bank Muamalat Salurkan Bantuan untuk 4.597 Penyintas Gempa NTT
- Bank Mega Syariah Rayakan Harpelnas 2026 Berikan Layanan Medical Check-Up Gratis untuk Nasabah
- Bank Muamalat Indonesia Menutup Rangkaian Kegiatan HUT RI ke-81 dengan Meriah
- CIMB Niaga Hadirkan Beragam Apresiasi untuk Nasabah di Hari Pelanggan Nasional 2026
Hal ini menurutnya, karena pertumbuhan BNI Syariah pada tahun 2014 cukup signifikan yaitu di angka 35 persen, sehingga mengerus modal 2 persen sampai 2,5 persen. “Kalau Rencana Bisnis Bank (RBB) di tahun 2015, di atas 15 persen malahan ke 25 persen,” pungkasnya.

