Kondisi perekonomian yang masih melambat membuat BNI Syariah lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan demi menjaga kualitas.

Dinno mengungkapkan pihaknya akan berupaya mempertahankan rasio pembiayaan bermasalah (non performing finance/NPF) maksimal di angka 2,5 persen sampai akhir 2015. Saat ini NPF BNI Syariah tercatat sekitar 2,1 persen dan merata di seluruh segmen pembiayaan, terutama di pembiayaan non fixed income. “Strategi untuk menjaga NPF itu dari proses dan orang. Prosesnya mesti dibenarin dan orangnya juga. Yang sudah dibenarin dari sisi orang, tapi tetap itu (NPF) ada pergerakan juga karena perekonomian,” ujar Dinno. Baca: Kehati-hatian BNI Syariah di Pembiayaan Mikro
Di sisi lain, sampai April 2015 pertumbuhan aset BNI Syariah sebesar 9,1 persen, masih jauh dari target 25 persen yang dicanangkan tahun ini. Dinno pun pesimis dapat mencapai target aset tersebut di tahun ini. “Kalau bicara dari sisi aset tahun 2015 mestinya tidak tercapai target aset yang rencananya 25 persen, sementara per bulan April baru 9,1 persen. Jadi kami pikir kalau dari sisi aset mestinya tidak terkejar,” tukas Dinno. Kendati demikian, tambah Dinno, pihaknya tidak akan merevisi rencana bisnis bank.
Berbeda dengan profit yang sejauh ini masih sesuai target. Dinno menuturkan sampai akhir tahun pihaknya menargetkan laba sebesar Rp 163 miliar. “Profit masih on track, untuk profit bisa tercapai,” tukas Dinno, yang menambahkan salah satu pendorong pencapaian laba adalah dengan melakukan efisiensi yang lebih baik dan menjaga kualitas pembiayaan. BNI Syariah menargetkan dana pihak ketiga dan pembiayaan tumbuh antara 15-20 persen di tahun ini. Baca: Rasio Pembiayaan Bermasalah Bank Syariah Melonjak

