Buku Misteri Gunung Padang diluncurkan
Arkeolog dari Universitas Indonesia, Ali Akbar meluncurkan buku yang berdasar kajian lapangannya sejak akhir tahun 2012, bertajuk Situs Gunung Padang, Misteri dan Arkeologi. Sebuah upaya memberi penjelasan komprehensif ihwal situs yang menampilkan batu-batu besar di pelosok Cianjur tersebut, dari segi ilmiah maupun kepercayaan yang beredar di masyarakat adat.

Heru Lesmana Syafei/ Sharing
Peluncuran buku tersebut disusul dengan diskusi yang menjadi bagian dari serial rutin “Bencana dan Peradaban” yang diinisiasi oleh staf khusus presiden bidang Sosial dan Bencana, Andi Arief, di Gedung Krida Bakti, Sekretariat Negara, Selasa, 28 Januari 2014.
Mengenai perselisihan pendapat yang sempat muncul di kalangan geolog dan arkeolog, Andi menjelaskan, tidak ada pertengkaran, namun berupa dialektika di antara sesama ilmuwan. Tim Terpadu Riset Mandiri yang dia bentuk, diklaim bekerja dengan mentaati semua perizinan yang ada.
Abe, sapaan dekat Ali Akbar mengatakan, temuan penting dari situs batu besar tersebut adalah dari usianya menurut perhitungan karbon (carbon dating) yang mencapai 500 tahun SM (sebelum masehi), yang berarti lebih tua dari Candi Borobudur yang tahun 800 SM. Perhitungan berdasar sampel karbon tersebut juga bisa lebih tua lagi, mencapai 5000 SM, jika mengambil sampel yang terletak lebih dalam lagi dari permukaan situs.
Metode perhitungan lain juga dipakai, yakni geofisika, geolistrik dan georadar. Hasil analisis juga menunjukkan seperti ada ruang di dalam tubuh situs yang berbentuk menyerupai piramida itu. Fakta demikian dapat mengubah peta peradaban dunia yang selama ini dipahami.
Abe mengatakan, penelitian arkeologis-nya bisa dikatakan berjalan relatif cepat karena melibatkan banyak orang dari berbagai disiplin ilmu. Dia melibatkan disiplin geografi, geologi, arsitek, baik professional, maupun masih mahasiswa dengan peran kerja yang sesuai kapasitas masing-masing.
Abe siap berdialektika dengan para peneliti lain jika mempunyai pendapat yang berbeda. “Silakan dibantah dengan riset, sehingga akan menciptakan diskusi yang sehat,” ucapnya.
Menurut pembicara, mantan Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Haris Sukendar, bencana dan peradaban sangat terkait. Bencana dapat menghancurkan, sekaligus memunculkan suatu peradaban tertentu. Contohnya, letusan Gunung Tambora yang menghancurkan tiga kerajaan di sekitarnya. Demikian juga Gunung Padang, ada kemungkinan, tertutupnya situs tersebut karena suatu bencana. Sehingga kita perlu mengungkapnya.
Menurut Haris, situs Gunung Padang sangat penting, bahkan sudah ada sejumlah peneliti asing yang penasaran. Dia menduga, Gunung Padang adalah penanda terjadinya perpindahan bangsa bahasa dan budaya yang membuktikan bahwa bangsa di Asia Tenggara dulunya adalah satu, yaitu bangsa Austronesia.
Menurut pembicara Danny Hilman Natawidjaja, situs Gunung Padang dibangun secara bertahap oleh beberapa peradaban. Situs tersebut diduga mulai dibangun sejak Zaman Es. Ada empat lapisan bangunan, yang tiap-tiap lapisan dibangun oleh peradaban berbeda. Lapisan tertua diduga berasal dari masa 11.000 tahun yang lalu dan diduga dibangun oleh peradaban saat itu.
Bagian bangunan di perut Gunung Padang yang diduga sudah ada sejak Zaman Es adalah yang berada di lapisan paling dasar. Sejarah membuktikan, bangkit dan runtuhnya peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh bencana alam. Dalam kurun waktu 11.000 tahun, mungkin ada peradaban nusantara yang membangun situs Gunung Padang runtuh akibat bencana.
Mengenai susunan batu-batu di situs yang mirip columnar joint, yang merupakan bentukan alamiah sebagai suatu fenomena geologis, sehingga tidak bisa diklaim sebagai buatan manusia, Danny mengatakan, harus dipahami perbedaannya. Dia menjelaskan, columnar joint selalu tegak lurus, rapi, dan rapat tanpa ruang antara. Sementara di Gunung Padang, yang terjadi adalah tidak tegak lurus dan tidak rapi. “Lebih meyakinkan kalau Gunung Padang itu tidak alamiah,” jelasnya.
Pembicara seniman Ray Sahetapy, mengatakan, kita tidak perlu mencari keseimbangan lagi, namun seharusnya menjaga keseimbangan. Menurutnya, Nusantara ini sudah seimbang. Tidak perlu saling klaim negeri Indonesia sebagai negeri agraris atau maritim, karena jumlah air dan tanahnya sama banyaknya. Menurutnya, Gunung Padang adalah bukti peradaban Nusantara.
Oleh: Heru Lesmana Syafei

