Kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan membuat produk investasi wealth management akan kian diminati.
Senior Vice President and Head of Wealth Management HSBC Indonesia Steven Suryana mengatakan, pada Januari sampai Maret 2016 Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga BI rate dari 7,5 persen menjadi 6,75 persen. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah mengeluarkan aturan penurunan maksimum suku bunga deposito perbankan, dari BI rate plus 225 basis poin menjadi BI rate plus 100 basis poin. Dengan demikian, perbankan hanya bisa memberikan suku bunga deposito maksimal 7,75 persen.
“Sebelumnya banyak bank menawarkan suku bunga deposito double digit sampai di atas 10 persen dan ini perlu dicermati. Namun, dengan suku bunga turun akan berdampak positif terhadap bisnis wealth management dan menjadi awal dari perkembangan wealth management yang lebih besar lagi di Indonesia,” katanya dalam HSBC Wealth & Beyond Personal Economy Forum 2016, Selasa (12/4).
Ia memaparkan terdapat banyak opsi produk wealth management yang dapat dipilih investor, seperti asuransi unitlink, reksa dana, obligasi ritel dan sukuk ritel. Investor pun bisa memilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan investasinya. “Sekarang cukup banyak permintaan yang luar biasa di reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, obligasi ritel dan sukuk ritel. Dengan obligasi ritel returnnya 9 persen dan pajaknya hanya 15 persen, sedangkan deposito pajaknya 20 persen tentu obligasi jadi alternatif investasi yang menarik,” jelas Steven.
- Masjid Al-Ikhlas PIK Dibuka, Usung Islamic Classical Architecture Padukan Keindahan, Kesederhanaan dan Kekhusyukan
- CIMB Niaga Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Pelajar di 2026
- “D-8 Halal Expo Indonesia 2026”, Tegaskan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Ekonomi Halal
- BSI Catat Penjualan Emas Tembus 2 Ton, Nasabah Nikmati Kenaikan Harga
Menurut Steven, dengan berinvestasi di obligasi atau sukuk ritel akan memberikan proteksi kepada investor. “Kalau di deposito suku bunga ke depannya belum tentu 7,75 persen dan bisa turun lagi. Kalau di obligasi atau sukuk imbal hasilnya akan tetap seperti itu selama tiga tahun, jadi banyak peluang yang bisa diberikan ke nasabah,” katanya.
Ia melanjutkan peluang investasi lainnya juga diperlihatkan dengan performa IHSG yang atraktif dalam 10 tahun terakhir, yang mencatat return paling tinggi di dunia. Dengan begitu, tak mengherankan jika mulai terjadi pengalihan investasi. “Dalam beberapa tahun terakhir tidak banyak nasabah yang menambah investasinya ke bank. Namun, tahun ini banyak pembelian bersih yang positif eksposurnya ke produk wealth management,” ungkap Steven.
[bctt tweet=”HSBC: suku bunga turun akan berdampak positif terhadap bisnis wealth management”]
Steven mengutarakan selain produk perbankan seperti deposito dan tabungan, HSBC Indonesia menawarkan berbagai produk wealth management seperti reksa dana dari delapan partner perusahaan manajemen aset, asuransi jiwa Allianz dan asuransi umum AXA Indonesia. Untuk meningkatkan awareness akan produk wealth management, HSBC pun menyelenggarakan event edukasi dan meningkatkan layanan.
“Untuk layanan kami ada internet banking yang termasuk advance. Nasabah tidak hanya bisa melihat transaksi keuangannya, tapi juga melakukan pembelian, penjualan dan pengalihan reksa dana secara online, melihat portofolio nasabah dan memonitor perkembangannya,” pungkasnya.

