Guna mencegah semakin banyaknya kasus gizi buruk, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Nusa Tenggara Timur (NTT) giat melakukan berbagai promosi kesehatan.

Kasus gizi buruk hampir terjadi di seluruh wilayah NTT. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan NTT tahun 2014, sebanyak 27.327 anak gizinya bermasalah (di bawah angka normal), 23.963 anak balita bergizi buruk, 3.351 anak mengalami gizi buruk, 13 anak kelainan klinis, dan 6 meninggal karena gizi buruk.
Direktur LKC Dompet Dhuafa NTT drg. Martina Tirta Sari menjelaskan, meski Kupang bukan menjadi wilayah basis atau banyaknya kasus gizi buruk-kurang di NTT, promosi kesehatan terus digalakkan. Model sosialisasi dan penyuluhan pun beragam. “Penyuluhan pun kita coba untuk berbagai cara seperti cooking class. Sebenarnya di sini banyak potensinya. Laut kita dekat. Ikan pasti banyak lalu ada pangan lokal lain misal jagung dan singkong,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima MySharing, Selasa (23/2).
Dalam menjalankan upaya tersebut, lebih dari 20 kader kesehatan lokal LKC Dompet Dhuafa NTT dikerahkan. Kader ini membantu edukasi seperti sosialisasi dan penyuluhan. “Kami upgrade (latih) mereka. Seperti kader pos sehat minimal tahu nama-nama obat. Dan mereka semuanya ibu-ibu,” terang Martina.
Dalam menyukseskan promosi kesehatan, kader sehat dinilai berperan penting. Salah satu alasannya adalah kader sehat merupakan warga lokal yang mengerti kebiasaan masyarakat setempat. Edukasi dan mengubah pola pikir masyarakat diharapkan lebih efektif dijalankan.
Selain faktor kemiskinan, tingginya kasus gizi buruk nyatanya juga dipengaruhi rendahnya pemahaman ibu terhadap makanan bergizi. Contohnya adalah ibu memberikan makanan asal kenyang kepada anak balita, tanpa memahami asupan gizinya.

