PT Bank CIMB Niaga Tbk dan PT CIMB Securities Indonesia menyelenggarakan Asiamoney-CIMB ASEAN Domestic Bond Markets Round Table Series ke-2 pada (22/5/14) di Jakarta. Menyusul sukses seri pertama pada 2013, round table series yang kali ini berlangsung di Indonesia, mengambil tema “Broadening Issuer and Investor Base of Indonesian Bond Market”. Rangkaian konferensi tersebut merupakan ajang yang diselenggarakan bersama oleh CIMB Group dan Asiamoney di seluruh wilayah ASEAN.
Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), – Sarjito hadir menyampaikan sambutan mewakili Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK. Dalam sambutannya, Sarjito menyatakan, “OJK akan mengupayakan kondisi pasar yang ideal sehingga perusahaan tertarik untuk menerbitkan obligasi. Prioritas OJK adalah menyederhanakan proses penawaran umum yang sekarang ini mewajibkan emiten untuk menyampaikan kembali dokumen registrasi setiap kali menerbitkan obligasi. OJK juga akan menerapkan skema shelf registration untuk penerbitan efek. Dengan skema tersebut, emiten cukup menyampaikan surat pendaftaran satu kali untuk beberapa kali emisi untuk jangka waktu tertentu.”
Sarjito menambahkan, OJK telah menetapkan SMO-PMO proyek pasar obligasi untuk 2014 hingga 2016, yang melibatkan lembaga lain seperti Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Direktorat Jenderal Pajak, Badan Kebijakan Fiskal, badan regulasi mandiri atau SRO (self-regulatory organization) dan Penilai Harga Efek Indonesia atau IBPA (Indonesia Bond Pricing Agency). Di bawah proyek tersebut akan dijalankan lima program pokok, di antaranya pengembangan platform perdagangan elektronik, harmonisasi peraturan, pengawasan dan kebijakan perpajakan.
“Selain itu, perjanjian Global Master Repo Agreement (GMRA) yang berlaku di seluruh dunia juga akan diterapkan di Indonesia. OJK telah membentuk tim khusus untuk mempersiapkan GMRA Indonesia Annexes, dan ketentuan yang tercakup dalam aneks ini dapat mengakomodasi semua produk efek selain obligasi pemerintah. OJK juga akan menetapkan regulasi mandiri dengan merujuk kepada GMRA Indonesia Annexes,” jelas Sarjito mengakhiri sambutan.
Dalam acara itu, Country Head, PT CIMB Securities Indonesia – Harry Supoyo, menyampaikan, bahwa pasar obligasi di Indonesia akan berkembang pesat karena ditunjang kuatnya likuiditas dalam negeri maupun kesinambungan permintaan dari lembaga pendanaan dalam negeri dan regional.
“Tingginya permintaan dari investor membuat kami yakin bahwa perusahaan di Indonesia akan menerbitkan lebih banyak obligasi rupiah tahun ini, dan mereka pun bisa menarik masuk dana dari pasar obligasi dengan mata uang setempat di negara-negara ASEAN dengan dukungan kuat active cross-currency interest rate swap market di kawasan ini,” papar Harry.
Tampil sebagai pembicara dalam acara tersebut sejumlah tokoh penting dari kalangan usaha di Indonesia, Malaysia dan Singapura, dari badan supranasional dan dari lembaga investasi terkemuka dari Indonesia, serta pejabat senior dari CIMB Group, CIMB Niaga dan sponsor regional konferensi. Pucuk pimpinan dari sejumlah perusahaan dan lembaga investasi turut hadir di sana, dan terlibat dalam diskusi terbuka dalam salah satu sesi.
Diskusi mencakup berbagai persoalan penting, khususnya pasar sukuk di Indonesia; diversifikasi emiten dan investor; peluang dan tantangan dalam pendanaan obligasi bunga tetap jangka panjang untuk proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia; dan emisi lintas-negara di pasar obligasi domestik ASEAN. Peserta mengemukakan beberapa usulan dengan tujuan meningkatkan kondisi pasar obligasi Indonesia agar dapat tumbuh berkelanjutan. *
