“Coronavirus ini Perang Biologi!”: Coronavirus dan Perang Ekonomi (2) – Dr. Ichsanuddin Noorsy

Ini adalah video kedua dari seri Coronavirus dan Perang Ekonomi bersama narasumber Dr. Ichsanuddin Noorsy, BSc, SH, MSi, pengamat ekonomi politik.

Di tengah riuh pemberitaan soal perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) orang melupakan, China berhasil melakukan revolusi biologi, mengkloning monyet. Keberhasilan merevolusi biologi, dekat dengan kemampuan membuat senjata biologi.

Program transplantasi sejumlah organ tubuh manusia juga ditawarkan walau secara gelap. Belajar dari krisis Timur Tengah, yang tidak pernah usai dan mempelajari isu penggunaan senjata kimia oleh Israel, China membangun 7-8 laboratorium penelitian virus di Wuhan.
Pembelajaran akan hal ini juga dipicu oleh ramainya flu babi pada 2009, virus kuku sapi, virus flu burung yang menyerang Hongkong pada 1997 dan Oktober 2003.

Dari konstruksi di atas, berkembangnya isu virus corona sejak akhir Desember 2019, akhirmya dilihat banyak kalangan sebagai kegagalan China untuk membangun sistem kesehatan dan keselamatan kerja.

Laboratorium di Wuhan, dianggap bocor sehingga menyerang ribuan orang walau China mengakuinya hanya memakan korban 80 orang mati.

Konstruksi ini mengukuhkan dugaan bahwa laboratorium di Wuhan adalah bagian dari senjata kimia China yang bocor karena rendahnya kualitas disiplin kesehatan dan keselamatan lingkungan (health, safety, and enviromentals) China. Benarkah?

China telah menjadi korban, juga AS, lalu apakah in perbuatan mereka? Menurut Dr. Ichsanuddin Noorsy, BSc, SH, MSi, petunjuknya bisa dilihat dari ajakan Xi Jinping pada teleconference G20 baru-baru ini. Xi mengundang AS untuk berdialog lebih lembut dan berhenti menempatkan China sebagai musuh lalu dirunut ke belakang ke sejarah perang dagang AS-China.

Sesungguhnya kalau begitu, corona ini apa? Senjata biologi sebagai wujud dari perang ekonomi atau wabah pandemic saja. “Kalau merunut dari belakang dari tulisan saya, ini perang biologi sebagai wujud dari perang ekonomi”, kata Noorsy.

Bahkan Dr. Doom, sapaan akrab untuk Dr. Nouriel Rubini yang sering dikutip oleh Noorsy, mengatakan krisis ekonomi kali ini akan lebih besar daripada great depression pada 1924 dan krisis keuangan global pada 2008.

Bagaimana dengan Indonesia, sejak awal abad 21 Indonesia bersikukuh berpijak pada neoliberal. Dulu, neolib masih malu-malu-malu kucing menggunakan negara sebagai sarana untuk kepentingan korporasi. Sekarang tidak, mereka sudah tidak malu lagi dengan adanya Demokrasi Korporasi.

Itu juga yang terjadi di AS, kekuatan korporasi mendikte habis-habisan negara. Sama seperti Indonesia, ketika korporasi mendikte Indonesia, menurut Noorsy akan muncul social distrust, kalau sudah begitu, akan muncul social disorder, berantakan, lalu social disobedience.

Repotnya hal ini dipertontokan oleh pejabat publik. Contohnya, kita sedang tidak mau mendatangkan TKA, malah mendatangkan TKA. Lalu keputusan BPJS naik atau tidak. Orang maunya tidak naik, malah mengayakan nanti subsidi akan dicabut. Lalu banyak lagi lainnya. Intinya, menentang etika publik.

Akhirnya, masyarakat pun mengikuti, larangan untukbepergian dan berkumpul selama pandemic corona dilanggar. Muncullah ketidakpastian, dalam tesis global inilah yang disebut dengan volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity (VUCA).

Di Indonesia, terjadi gonjang ganjing nilai tukar, di saat yang sama tidak ada keputusan yang pasti dari Pemerintah, di saat yang sama masalahnya kian kompeks.

Lalu, bagaimana ini akan berakhir? Baik krisis maupun pandeminya? Apakah akan normal kembali? Atau akan terbentuk the new normal? Saksikan video lengkapnya di sini.