Sementara kita suka menerka-nerka siapa capres pilihan Amerika, Paman Sam justeru asyik melakukan diplomasi budaya dengan “cinta”.

“Meskipun kita dibedakan oleh suku, ras, agama, dan kebangsaan. Tetapi selalu ada yang menyatukan kita, yaitu yang ada di hati masing-masing, cinta”, Baraka Blue yang sudah dua kali ke Indonesia berbicara kepada penonton. Layaknya rapper negeri Paman Sam lainnya, saat berbicara, mikropon dipegang dengan buntut ke atas dan kepala sedikit mendongak. Petugas dari Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Jakarta, menerjemahkan tiap perkataan Blue kepada penonton. Kalau yang ini, mikropon dipegang seperti orang pada umumnya, dengan buntut ke bawah di depan leher.
Ada Rumi di Panggung Hip Hop
Blue suka berpuisi. Mengagumi Maulana Rumi, ia menyampaikan satu puisi Rumi tentang Ney, alat musik tiup tradisional Tukri yang mirip suling. “Ini bukan suling, ini Ney”, kata Blue sebagaimana diterjemahkan. Puisi yang rumit namun intinya penghayatan Maulana Rumi terhadap Ney. Bagi yang memahami sastra sufistik, siapa tidak mengenal Rumi. Karya-karya yang emosional menginternalisasi nilai tauhid. Erich Fromm, filsuf dan psikoanalis (1900-1980) dalam magnun opusnya, The Art of Loving (1956), memuja Rumi: “Dua ratus tahun sebelum pemikiran humanisme renaisance, Rumi telah mendahului mengemukakan ide-ide tentang toleransi agama yang dapat ditemukan pada Erasmus dan Nicholas De Cusa, dan ide-ide tentang cinta sebagai tenaga kreatif yang fundamental sebagai yang dikemukakan oleh Facini… Rumi bukan saja seorang penyair dan mistikus (sufi) serta pendiri Tarekat; tetapi ia juga seorang manusia yang mengetahui secara mendalam tabiat-tabiat manusia”.
Layaknya bule lainnya, Baraka Blue dan grup musiknya, Hip Hop Ambassadors hanya tahu beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Yang utama, “Apa Kabar?” Kata lainnya, tampak disesuaikan dengan kampanye mereka, “Cinta”. Bahkan mereka membuat lagu khusus berjudul: “1-2-3, Cinta”. Yang rima sederhananya menunjukkan kepiawaian pengarangnya dalam membuat karya populer.
Cinta, bahasa universal yang dikampanyekan Blue dan kawan-kawannya, berasa universal. Tak heran juga jika puisi Rumi yang diberi waktu khusus untuk dibacakan, dan Ney, alat musik favorit Rumi yang ditiup di atas panggung. Barat memang lebih mudah menerima Rumi. Hampir semua buku puisi karya Rumi telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Barat seperti The Essential Rumi, bunga rampai puisi Rumi paling laku di seluruh dunia yang telah diterbitkan 22 volume dalam 33 tahun ini. Kolumnis budaya bbc.com, Jane Ciabattari mewawancarai Coleman Barks, penyair AS, penulis The Essentials Rumi: “I feel there is strong global movement, an impulse that wants to dissolve the boundaries that religions have put up and end the sectarians violence. It is said that poeple of all religions came to Rumi’s funeral in 1273. Because they said, he deepens our faith wherever we are. This is a powerfull element in his appeal now” (http://bbc.com/culture/story/20140414-americas-best-selling-poet).
Ajaran Rumi tentang cinta begitu populer dan lintas agama, sehingga ada kutipan Rumi yang juga sangat populer tentang ini, meskipun di beberapa forum internet lokal masih ditanyakan keabsahannya, benarkah Rumi pernah mengatakan ini?
I AM THE LIFE OF MY BELOVED
What can I do Muslims? I do not know myself.
I am no Christian, no Jew, no Magian, no Mussulman.
Not of the East, not of the West. Not of the land, not of the sea.
Not of the Mine of Nature, not of the circling heavens,
Not of earth, not of water, not of air, not of fire;
Not of the throne, not of the ground, of existence, of being;
Not of India, China, Bulgaria, Saqseen;
Not of the kingdom of the Iraqs, or of Khorasan;
Not of this world or the next: of heaven or hell;
Not of Adam, Eve, the garden of Paradise or Eden;
My place placeless, my trace traceless.
Neither body nor soul: all is the life of my Beloved .
Apapun, meski dilahirkan 807 tahun lalu, sihir cinta Rumi masih ampuh untuk mendongkrak popularitas hingga sekarang. Contoh gampang, kelompok musik Dewa mengadaptasi Rumi dalam “Laskar Cinta”. Ahmad Dhani sendiri, dikenal sebagai pengagum Rumi.
Duta Besar Hip Hop

Akhir minggu lalu (16/5), Kedutaan AS di Jakarta mempersembahkan konser tertutup Hip Hop Ambassadors dalam rangkaian tur “Very Necessary” kelompok musik asal AS ini. Konser yang hanya untuk undangan resmi ini digelar di halaman kediaman resmi Duta Besar Robert Blake di Menteng, Jakarta Pusat. Ratusan undangan datang dan gempita dalam “sihir cinta” modern. Baik orang Indonesia maupun ekspatriat, beberapa remaja AS dalam balutan gaun minim berdansa. Duta Besar Blake sendiri tak henti berdansa, berdiri tak jauh dari bule-bule isteri-isteri pemusik Debu yang berhijab, bercengkerama dengan mereka.
Pemusik Debu memang diundang tampil juga meski tidak banyak. Tak kurang, tokoh pers nasional Parni Hadi berdansa di tengah kerumunan, meski tak lebih dari 30 menit. Konser sendiri berlangsung sekitar 1,5 jam. Setelah sebelumnya undangan diajak makan malam di dalam kediamannya oleh Duta Besar Blake. MySharing sendiri, sulit untuk berdansa dalam balutan batik resmi, kikuk rasanya.
Malam itu tak ada suasana resmi apalagi pernyataan resmi dari wakil tertinggi negara adikuasa, simpel saja, ia hanya mengajak undangan untuk berpesta, “Are you ready for party?”, katanya membuka konser. Di akhir konser, Baraka Blue menarik Duta Besar Blake naik ke panggung. Tanpa kikuk, Robert Blake naik dan bejoget beberapa menit yang disambut meriah para undangan.
Duta Besar menari, mengingatkan pada yang dilakukan oleh Duta Besar AS untuk Pakistan, Cameron Munter yang berdansa saat pertunjukkan hip hop dari grup FEW Collective pada (14/10/2011). Video Duta Besar Cameron menari ini dapat ditemukan di Youtube. Reuters pun menulis ulasan tentang ini, “US tries ‘hip hop’ diplomacy in Pakistan”. Menyebut ini adalah bagian dari diplomasi budaya AS di negeri yang masih menganggap AS sebagai musuh nomor satunya. Pun dengan Al Jazeera yang memuat opini Hishaam Aidi, Fellow Open Society Foundation, New York dengan judul: “Leveraging hip hop in US foreign policy”. Hishaam Aidi beropini tentang diplomasi budaya melalui musik hip hop yang dilakukan AS di Syiria pada 2011.
Di Indonesia, grup musik Hip Hop Ambassadors melangsungkan tour di empat kota: Solo, Makassar, Aceh, dan Jakarta. Di Makassar, kelompok musik ini bahkan tampil di Pesantren IMMIM Putra Makassar untuk menyokong kegiatan donor darah Blood4 Nation.
Kelompok musik beranggotakan Anas Canon (DJ), Baraka Blue (Vokal), Sunni Ali (Vokal), dan Erik Riko (Drummer/Pianis/Gitaris) ini juga menggoyang pemirsa RCTI dalam program Dahsyat (16/5) dan pengunjung Pusat Kebudayaan Amerika (@America) pada 17/5. (bersambung)

