
Hip Hop Ambassadors adalah kepanjangan tangan dari Very Necessary, inisiatif musik lintas budaya yang digagas, Anas Canon, musisi dan DJ asal pantai Barat AS, Los Angeles.
Strategi serupa dilakukan di Tunisia. Grup musik Remarkable Current tampil pada 27 Mei hingga 23 Juni 2011 di Tunisia. Berkolaborasi dengan pemusik rap lokal Tunisia, Remarkable Current yang dimotori Anas Canon melakukan apa yang disebut juga sebagai “people to people democracy”.
Dalam sepuluh tahun terakhir, Remarkable Current yang kemudian berganti nama menjadi Very Necessary, telah bertumbuh dari sekadar sekelompok teman musisi dengan visi yang sama bermain musik di lantai dasar menjadi kolaborasi nasional pemusik dan aktivis dengan tujuan seragam. Tujuan itu adalah membentuk secara kreatif identitas urban ala Amerika dan membagikannya ke seluruh dunia. Musik yang disuguhkan Very Necessary adalah campuran dari berbagai macam musik dengan fokus kepada musik hip hop yang tumbuh di kalangan urban Amerika.
Makanya, yang dijadikan brand-nya adalah adalah sebuah grup yang dinamakan Hip Hop Ambassadors. Dimotori langsung oleh Anas Canon, HHA It is another example of his vision and leadership in the music industry. Dalam pertunjukkannya di Indonesia pada 2010 yang disponsori oleh US State Department’s Performance Arts, dilaporkan HHA mencapai US Embassy press records dengan keberhasilan menggapai jutaan pemirsa.
Pada masa perang dingin, diplomasi budaya AS dilakukan dengan musik Jazz, kini hip hop. Efektif membangun citra bangsa, menghubungkan kesepahaman antarbudaya.
Jazz dan Diplomasi Budaya
Musik dan gerakan sosial tampak sangat terkait dalam sejarah sosial. Sebagai contoh, lagu “We Shall Overcome” dan “Can’t Turn Me ‘Round” dinyanyikan pemrotes muda AS di era ’60-an. Di Mesir, lagu Abdel Halim Hafez’s, “High Dam” menyemangati bangsa itu untuk melawan kolonialisme dan mendorong terselesaikannya Dam Aswan pada 1964. Di Indonesia, lagu “Darah Muda” menyemangati gerakan mahasiswa 1966, peralihan Orde Lama ke Orde Baru. Gerakan mahasiswa 1998 belajar dari para pendahulunya dan menyanyikan juga lagu ini.
Pemerintah AS kehilangan kredibilitasnya di mata masyarakat sipil Tunisia sejak pemerintahan Obama tidak pernah mengutuk kekejaman Presiden Tunisia, Ben Ali saat itu terhadap kelompok pro demokrasi yang memrotesnya. Sementara, sebagian besar negara di dunia mengutuk. Pendekatan pemerintahan AS kepada dunia Islam sebagaimana dijanjikan Obama di awal pemerintahannya seakan tidak memeroleh buktinya dalam pergolakan di Tunisia.
Musik memankan peran penting dalam diplomasi budaya AS pada masa perang dingin. Saat itu belum ada musik hip hop, yang populer adalah Jazz. Pada November 1955, harian the New York Times mendeklarasikan Louis Armstrong sebagai duta AS paling efektif. Apa yang diplomat AS tidak bisa lakukan, Armstrong dan jazz-nya dapat.

Di antara para musisi itu adalah Duke Ellington, B.B. King, dan Dizzy Gillespie yang berangkat ke Afrika dan Timur Tengah pada 1956. Dizzy Gillespie berperan sebagai duta musik dalam perjalanannya ke Timur Tengah. Dalam laporannya kepada President Dwigth D. Eisenhower, ia mengatakan kampanye jazz-nya berhasil mengurangi pengaruh propaganda komunis (red propaganda).
Produser jazz, Willis Conover memformalkan diplomasi budaya ini dalam program yang dinamakan “Music USA”, untuk mempromosikan pentingnya musik jazz dan tentu saja bersama musisinya sebagai duta besar AS. Sebagaimana dikutip Wikipedia, Conover mengatakan: “Jazz is a cross between total discipline and anarchy,” yang terwakilkan dalam cara jazz itu sendiri dimainkan. Musisi jazz bersinergi dalam tempo, kunci, dan nada, tetapi dapat berbeda-beda dalam ekspresi dan improvisasinya.
Selain AS, negara lain juga menyadari pentingnya diplomasi budaya. Bahkan membangun pusat kebudayaan khusus untuk itu yang dapat kita lihat ada di Indonesia, seperti Centre Culture Francaise (CCF), Pusat Kebudayaaan Jepang, dan Erasmus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda), Pusat Kebudayaan Amerika (@America), dan lain-lainnya.
Dus, konser ditutup dengan lagu “1-2-3 Cinta”. Baraka Blue dan Sunni Ali tampil berdua. Tak henti bergoyang dan menggoyang penonton. Diplomasi budaya menurut Canon di pembuka konser malam itu adalah. “To spread the love to all the mankind”. Cinta, yang oleh Anas Canon sebagaimana ditulis di salah satu lagunya: L.O.V.E, “Love is kind, Love is divine”. Para personel HHA adalah Muslim. Meskipun lagu-lagu mereka tidak semuanya mengidentikkannya dengan Islam, semangatnya terasa. Terutama di kampanye “Cinta”-nya. Lagu-lagu mereka dan Very Necessary dapat didengar di sini. Anas pun menutup pertunjukkan dengan Assallamualaikum.

