Dompet Dhuafa akan meneruskan program Beasiswa Anak Tani di tahun depan. Jumlah penerima manfaat pun diharapkan dapat bertambah dua kali lipat.

Program ini pun rencananya akan dilakukan secara kontinu setiap tahun. “Jika di tahun ini baru untuk sekitar 1000 anak tani, di tahun depan inginnya bisa bertambah dua kali lipat,” ujar Yuli.
Yuli menambahkan pihaknya pun akan menyeleksi anak-anak petani yang mendapat program beasiswa, sehingga penerima manfaat bisa tersebar menyeluruh ke seluruh Indonesia. “Karena terbatas pada 1000 penerima, maka nanti akan kami bagi rata ke seluruh proponsi di Indonesia,” cetus Yuli.
Program tersebut pun tak hanya sebatas pemberian beasiswa, namun Dompet Dhuafa juga akan melatih dan membimbing para siswa agar bisa masuk perguruan tinggi. Dompet Dhuafa pun telah bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional untuk beasiswa Bidik Misi. Dari jatah 6000 beasiswa Bidik Misi diharapkan siswa bimbingan Dompet Dhuafa bisa memperoleh 1000 beasiswa tersebut.
Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Manajemen Institut Pertanian Bogor, Muhammad Firdaus, mengatakan dari 245 juta jiwa penduduk Indonesia, ada 26 juta rumah tangga petani. Jika setiap keluarga petani memiliki 2-3 orang anak, maka ada lebih dari 100 juta jiwa yang menggantungkan hidup pada pertanian.
“13 juta rumah tangga petani hanya punya lahan kurang dari setengah hektar jadi income sebulan tdk sampai Rp 1 juta untuk empat orang. Jadi dengan rata-rata per orang Rp 250-300 ribu per bulan, maka pendapatan kurang dari 1 dolar per hari. Jumlah orang miskin di Indonesia itu jadi lebih banyak daripada penduduk Malaysia dan Australia,” jelas Firdaus.
Menurutnya, kemiskinan telah menjadi suatu lingkaran setan. Jika pendapatan keluarga rendah, maka jumlah tabungan pun akan rendah atau malah tidak bisa menabung sama sekali. Akibatnya, anak-anak pun tidak bisa sekolah. Firdaus menuturkan rata-rata pendidikan di Indonesia hanya selama 11,5 tahun, sementara di negara lain tingkat pendidikan rata-rata adalah lulusan SMA atau sarjana.
“Ini yang mengakibatkan tidak bisa jadi tenaga kerja terampil, sehingga jadi miskin kembali, pendapatan rendah, lalu saat menikah dan punya anak juga mengakibatkan anaknya tidak bisa sekolah. Jadi terus berputar disana. Nah, yang bisa memutuskan lingkaran tadi adalah pendidikan,” pungkas Firdaus.

