
Credit: atamerica.or.id
Setiap menjelang suksesi kepemimpinan di suatu negara, selalu menjadi sorotan dari media Amerika Serikat, dan internasional. Situasi tersebut bisa dipahami dikarenakan kebijakan-kebijakan ekonomi selalu terkait dengan politik.
Demikian dapat disimpulkan dari diskusi tiga jurnalis ekonomi asing yang bertugas di Indonesia, di @America, Jakarta, Rabu 16 April 2014. Mereka adalah Neil Chaterjee (Bloomber News), Ben Bland (Financial Times), dan Patrick McDowell (The Wall Street Journal). Ketiganya sepakat, topik besar yang paling disorot dari Indonesia sejak beberapa bulan terakhir adalah mengenai suksesi kepemimpinan di Indonesia, untuk jajaran wakil rakyat (legislatif) dan presiden (eksekutif).
Meski demikian, menurut Ben, tidak penting untuk melihat dari sudut pandang kriteria presiden seperti apa yang diinginkan oleh investor multi nasional. Ini disebabkan sistem demokrasi di Indonesia yang memungkinkan perdebatan atau saling mengoreksi, antara eksekutif dan legislatif. Sehingga, jika eksekutif mengusulkan suatu kebijakan ekonomi tertentu, masih memerlukan persetujuan dan bisa ditolak oleh legislatif, demikian juga sebaliknya.
Patrick membuka diskusi dengan mengatakan, berbagai topik dari Indonesia sangat menarik perhatian dunia, salah satunya karena memiliki demografi penduduk yang besar. Ada sekitar 80 juta orang yang berada pada usia 25 tahun sampai 35 tahun. Sementara materi liputan mereka tidak bersaing dengan media lokal.
Ben mengatakan, topik ekonomi di Indonesia perlu dilihat dari berbagai aspek lain yang dapat mempengaruhinya. Ada beberapa fenomena menarik di Indonesia, seperti praktek perdukunan yang masih dipercayai oleh sejumlah orang kaya sebelum memutuskan sesuatu, mi instan yang selalu mendominasi materi bentuk bantuan bencana alam, dan kemunculan beberapa pemimpin-pemimpin daerah yang mendapat penghargaan Internasional.
Neil mengatakan, medianya tidak hanya meliput topik ekonomi, namun hampir segala hal yang menarik di Indonesia, seperti budayanya.
Diskusi tersebut diikuti pula oleh sejumlah pelajar dan pengajar komunikasi dari beberapa universitas di Jakarta.

