Wakil Kepala BEKRAF Ricky Joseph Pesik (kiri ujung) dan Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan (Deputi I), Abdur Rohim Boy Berawi (kiri kedua) pada pemaparan kinerja BEKRAF hingga tahunn 2017 di Djakarta Thearter, Jakarta, Selasa (28/11). foto:MySharing.

Ekraf Pilar Baru Ekonomi Indonesia

[sc name="adsensepostbottom"]

Ekonomi kreatif (Ekraf) telah berhasil menyumbang sekitar 652 triliun atau sebesar 7,83 persen.

Ekonomi kreatif diyakini dapat menjadi poros ekonomi terbaru Indonesia di masa yang akan datang. Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) N0. 6 tahun 2015 bertugas untuk membangun usaha ekonomi kreatif di Indonesia. BERKAF juga memiliki target berupa konstribusi sektor ekonomi kreatif pada pertumbuhan domestik bruto, tenaga kerja dan nilai ekspor.

[bctt tweet=”Ekonomi kreatif (Ekraf) berpotensi menjadi poros ekonomi di masa mendatang.” #Bekraf” username=”my_sharing”]

Wakil Kepala BEKRAF Ricky Joseph Pesik  menjelaskan, ekonomi kreatif pada 2015 telah berhasil menyumbang sekitar 652 triliun rupiah atau sebsar 7,83 persen terhadap  total  PDB  Indonesia. “Ekonomi kreatif (Ekraf) berpotensi menjadi poros ekonomi di masa mendatang,” kata Pesik pada pemaparan kinerja BEKRAF hingga tahun 2017 di Djakarta Thearter, Jakarta,  Selasa (28/11).

Ini jelas dia, disebabkan oleh kemampuannya untuk menyerap banyak tenaga kerja melalui lapangan pekerjaan baru yang tercipta, ekspor ke berbagai negara juga peningkatan nilai tambah.  Hal inilah yang berusaha dikembangkan oleh BEKRAF sejak 2015.

Selain itu, ditunjang ilmu teknologi, pengetahuan, informasi, dan invovasi yang mumpuni, Ekraf mampu memberikan dampak yang besar. Menurut hasil riset gabungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan BEKRAF pada 2015, sektor Ekraf berhasil menyerap 15,9 persen tenaga kerja dan menyumbangkan nilai ekspor sebesar 19,4 miliar dolar AS. Untuk mengembangkan potensi Ekraf, BEKRAF merangkul 16 sub-sektor usaha kreatif dalam arah kebijakan Ekraf yang terdiri dari kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi untuk menciptkan ekosistem yang baik di masa depan.

Dalam prakteknya, jelas dia, Deputi BEKRAF telah mengedepankan berbagai kegiatan sepanjang tahun 2016 dalam upaya untuk menciptakan ekosistem Ekraf tersebut . Adapun Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan sejak  2015 telah membangun pusat unggulan ekonomi kreatif dan menjalankan berbagai kegiatan seperti coding Mum, IKKON, Creatif dan fasilitas komunitas.

Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan (Deputi I), Abdur Rohim Boy Berawi menambahkan, Deputi I juga telah meluncurkan aplikasi BISMA (BEKRAF Information System Mobile Appacation) untuk mengumpulkan data apra pelaku Keraf di Indonesia dan menawarkan berbagai keuntungan bagi mereka. Deputi I bertajunggawab untuk membantu para pelakuk Ekraf membangun SDM yang menjadi kekuatan ekonomi kreatif melalui riset, edukasi, dan pengembangan.

“Sejak 2015, kami telah melakukan berbagai program seperti workshop dan bimbingan teknolohi yang diselenggarakan di 25 kota dan diikuti oleh 3.160 pesertta di bulan MEI hingga Oktober 2016,” jelas