Industri keuangan syariah Malaysia telah diakui menjadi yang terdepan dalam pengembangan ekonomi syariah. Setelah beberapa waktu lalu sejumlah pelaku perbankan syariah Malaysia berdiskusi mengenai pembentukan bank syariah mega (Islamic mega bank), kini industri asuransi syariah negara jiran dinilai punya potensi yang sama.

Pimpinan Keuangan Syariah Global Ernst & Young, Ashar Nazim, mengatakan dengan kelebihan tersebut, perusahaan Malaysia hendaknya dapat mengembangkan sayapnya dan mengembangkan pasar regional Asia Tenggara. Menurutnya, operator asuransi syariah Malaysia punya bahan-bahan yang tepat untuk tumbuh dan berkembang di kawasan Asia Tenggara dan belahan dunia lainnya. “Malaysia punya platform yang paling sukses untuk asuransi syariah keluarga, sementara pasar lainnya masih berjuang menemukan model bisnis yang berkelanjutan,” kata Ashar, dilansir dari bernama, Selasa (9/9).
Ashar menambahkan banyak operator asuransi syariah baru bermunculan di kawasan Teluk, Asia, dan Afrika Utara yang ingin memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai industri asuransi syariah. Oleh karena itu, lanjutnya, operator asuransi syariah Malaysia setidaknya dapat mengambil potensi pasar tersebut karena telah memiliki basis industri keuangan syariah yang kuat.
- BPKH dan Bank Muamalat Gelar Synergy Roadshow 2026 di Bandung
- CIMB Niaga dan Cathay Hadirkan Solusi Perjalanan Internasional Lebih Efisien via Cathay Travel Fair 2026
- Bank Muamalat Catat Kenaikan Transaksi Sertifikasi Halal Secara Daring
- BCA Syariah, BEI dan Henan Sekuritas Berkolaborasi untuk Edukasi Keuangan Syariah Bagi Mahasiswa PNJ
Country Managing Partner Ernst & Young Malaysia, Datuk Rauf Rashid, mengakui bahwa masih ada pasar potensial asuransi syariah yang belum dimasuki operator asuransi di kawasan Asia Tenggara. Penetrasi asuransi syariah di Malaysia tercatat sebesar lima persen. “Asia Tenggara, Malaysia dan Indonesia memegang sepertiga pangsa pasar asuransi syariah global,” katanya.
Industri asuransi syariah Malaysia diperkirakan tumbuh menjadi 3 miliar dolar AS tahun ini, naik dari tahun lalu yang sebesar 2,4 miliar dolar AS. Sementara, berdasar data Otoritas Jasa Keuangan, industri asuransi jiwa syariah Indonesia pada triwulan II 2014 mencatat kontribusi bruto sebesar Rp 3,04 triliun, dan asuransi umum dan reasuransi syariah Rp 540 miliar. Sedangkan, dari sisi aset industri asuransi syariah secara total tumbuh 15 persen menjadi Rp 19,26 triliun, dari Rp 16,66 triliun pada akhir 2013.

