Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat meyakini Korea Utara berada di balik serangan siber terhadap Sony Pictures, akhir tahun lalu, setelah para peretas bertindak ceroboh.

Para peretas, lanjut Comey, sebenarnya berupaya menyembunyikan identitas mereka dengan menggunakan server-server terselubung. Namun, kadangkala, mereka dengan lalai memakai server yang hanya dipakai Korut.
Penjelasan Comey yang disampaikan kepada para peserta Konferensi Internasional Keamanan Siber di New York, ditanggapi skeptis oleh para pakar.
- KNEKS dan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala bekerja sama Mengembangkan Hilirisasi Bahan Baku Halal berbasis Minyak Nilam
- Bank Muamalat Catat Kenaikan Jumlah Transaksi Top Up Kartu Uang Elektronik Hingga 180,52%
- Asosiasi DPLK dan DPLK Syariah Muamalat Inisiasi Sinergi Ekosistem Syariah bagi Sektor Informal
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
“Sejujurnya, Comey tidak mengungkap sesuatu yang baru. Berbagai alamat protokol internet (IP address) telah terkait dengan serangan ini, mulai dari sebuah hotel di Taiwan sampai IP address di Jepang. Setiap IP address yang tersambung ke internet dapat diretas dan dipakai oleh para peretas,” kata Brian Honan, peneliti keamanan.
Sony Pictures mengalami serangkaian kebocoran data, pada Desember 2014 lalu. Serangan itu didalangi kelompok peretas yang menyebut diri mereka, Penjaga Perdamaian.
Kelompok itu meretas akses ke jaringan perusahaan dan mencuri sejumlah besar informasi internal. Hal ini menyebabkan sejumlah film dibajak, dan jutaan surat elektronik dan informasi pribadi bocor ke ranah publik.
Serangan-serangan itu dilakukan di tengah upaya Sony dalam merilis film “The Interview” komedi tentang wartawan yang direkrut CIA untuk membunuh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

