Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat meyakini Korea Utara berada di balik serangan siber terhadap Sony Pictures, akhir tahun lalu, setelah para peretas bertindak ceroboh.

Para peretas, lanjut Comey, sebenarnya berupaya menyembunyikan identitas mereka dengan menggunakan server-server terselubung. Namun, kadangkala, mereka dengan lalai memakai server yang hanya dipakai Korut.
Penjelasan Comey yang disampaikan kepada para peserta Konferensi Internasional Keamanan Siber di New York, ditanggapi skeptis oleh para pakar.
- Bank Mega Syariah Rayakan Harpelnas 2026 Berikan Layanan Medical Check-Up Gratis untuk Nasabah
- Bank Muamalat Indonesia Menutup Rangkaian Kegiatan HUT RI ke-81 dengan Meriah
- CIMB Niaga Hadirkan Beragam Apresiasi untuk Nasabah di Hari Pelanggan Nasional 2026
- Bank Muamalat Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Tempatkan Nasabah sebagai Pusat Inovasi
“Sejujurnya, Comey tidak mengungkap sesuatu yang baru. Berbagai alamat protokol internet (IP address) telah terkait dengan serangan ini, mulai dari sebuah hotel di Taiwan sampai IP address di Jepang. Setiap IP address yang tersambung ke internet dapat diretas dan dipakai oleh para peretas,” kata Brian Honan, peneliti keamanan.
Sony Pictures mengalami serangkaian kebocoran data, pada Desember 2014 lalu. Serangan itu didalangi kelompok peretas yang menyebut diri mereka, Penjaga Perdamaian.
Kelompok itu meretas akses ke jaringan perusahaan dan mencuri sejumlah besar informasi internal. Hal ini menyebabkan sejumlah film dibajak, dan jutaan surat elektronik dan informasi pribadi bocor ke ranah publik.
Serangan-serangan itu dilakukan di tengah upaya Sony dalam merilis film “The Interview” komedi tentang wartawan yang direkrut CIA untuk membunuh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

