Para pelaku bisnis berkumpul di Turin, Italia. Agendanya, memetakan persoalan dan tantangan bisnis fesyen muslim.

Bisnis pakaian dan alas kaki negara muslim tahun 2013 ditaksir mencapai US$ 266 miliar. Capaian ini menunjukkan 11,9 persen dari total pengeluaran dunia. Belanja fesyen muslim dunia ditaksir mencapai US$ 488 miliar hingga 2019.
Negara muslim pembeli fesyen muslim terbesar pada 2013 dikuasai oleh Turki senilai US$ 39,3 miliar. Penguasa lima besar lainnya adalah Uni Emirat Arab US$ 22,5 miliar, Indonesia US$ 18,8 miliar, dan Iran US$ 17,1 miliar. Dengan pengeluaran fesyen muslim yang semakin besar ini, industri fesyen modern dunia tumbuh dengan semakin cepat.
Namun, meningkatnya persaingan di bisnis fesyen ini menuntut pelaku usaha untuk menghadapi berbagai isu besar. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kebutuhan pembuatan peta ekosistem fesyen terbaru dunia, identifikasi praktis bisnis etis, dan proses transparansi, keadilan, dan permodalan yang sesuai prinsip Islami.
“Fesyen modern terus berkembang dan tak hanya bagian dari ekonomi islami dunia namun juga elemen penting untuk mendorong industri pakaan dan aksesoris serta rantai distribusi dunia,” kata Abdulllah Al Anwar, CEO Dubai Islamic Economy Development Centre (DIEDC) seperti dikutip dari laman Zawya, Senin, 3 Juli 2015.
Menurut Abdullah, di tengah posisinya sebagai pasar menjanjikan, masih terbuka peluang bagi bisnis pakaian muslim untuk memberikan pengaruhnya diantara konsumen pakaian non muslim

