Olahraga bisa jadi suatu bisnis yang menjanjikan. Saat ini belum banyak yang mengelolanya secara profesional, namun perusahaan Development Basketball League (DBL) telah mulai merintisnya dan kini berkembang hingga dipercaya mengelola liga basket Indonesia dan tim nasional basket.

Di sisi lain, pihaknya juga harus bekerja keras dengan menciptakan kreasi dan sistem yang customized untuk mengelola event basket di seluruh Indonesia. “Yang penting punya kesungguhan hati dalam mengerjakannya, dan profesional. Sumber daya manusia yang bekerja di DBL harus profesional karena DBL adalah suatu perusahaan bukan yayasan,” katanya, dalam event Konferensi Markplus di sesi Sports Marketing, Kamis (11/12).
Dalam mengembangkan DBL pun pendapatan diperoleh tanpa suntikan dana pemerintah atau dari perusahaan rokok yang kerap menjadi sponsor acara olahraga. “Sejak awal kami anti sponsor dari perusahaan rokok,” tukas Azrul. Konsistensi DBL untuk pengembangan tunas muda atlit basket pun bekerjasama dengan sponsor lainnya.
Azrul mengakui saat ini pendapatan terbesar DBL berasal dari sponsor dengan porsi 70 persen. Namun, ia tak mau menggantungkan diri sepenuhnya dari sponsor. Oleh karena itu, ia pun bertekad akan mengurangi porsi kontribusi sponsor dengan hanya sekitar 40 persen. Caranya dengan mendorong sektor pendapatan lainnya, seperti dari penjualan tiket dan non sponsor.
Saat ini penjualan tiket berkontribusi sekitar 20 persen dan 10 persen dari non sponsorship. Azrul mengungkapkan di luar negeri pendapatan non sponsor datang dari hak siar televisi. “Tapi di dunia basket Indonesia itu nol bahkan minus. Pendapatan dari non sponsorship ya dari merchandise dan itu aman untuk terus kita kejar agar tumbuh,” papar Azrul. Nantinya non sponsor dan penjualan tiket ditargetkan dapat berkontribusi masing-masing 30 persen di masa mendatang.
Ia menambahkan kini pihaknya juga sedang terus mengupayakan olahraga jadi tontonan, meningkatkan fasilitas livestream dengan membuat channel sendiri, memperluas liga basket eksisting, menciptakan aktivitas basket yang berkelanjutan dan mendirikan toko merchandise. “Dari pengalaman saya mengelola dunia basket saya memeroleh pelajaran bahwa partisipasi adalah income, prestasi adalah cost. Kalau partisipasi meningkat, maka prestasi yang akan membiayai partisipasi,” pungkas Azrul.

