Kebrutalan CIA dalam metode interogasinya dianggap tidak banyak berperan dalam penangkapan teroris Asia Tenggara paling berbahaya, Hambali pada 2003.

Komunitas intelijen Paman Sam sering menganggap penangkapan Hambali di Ayutthaya, Thailand pada 2003 sebagai kesuksesan besar. Dan, metode enhanced interrogation technique (EIT) yang kini disebut oleh Senat AS sebagai metode brutal, dianggap berperan besar dalam penangkapan tangan kanan Osama bin Laden ini setelah Khalid Syeikh Mohammed (KSM) tertangkap CIA. Hambali bahkan dikatakan sedang merencanakan serangan besar sekelas 9/11 di wilayah West Coast, AS.
Tetapi, laporan Senat AS tentang metode interogasi CIA yang dirilis minggu lalu dan menghebohkan dunia mengatakan lain. Bahwa, teknik interogasi biasa, penyadapan email dan telepon, bantuan intelijen Thailand, dan tekanan polisi Indonesia terhadap Jamaah Islamiyah (JI) adalah faktor-faktor utama penentu keberhasilan penangkapan Hambali.
Sebagaimana dilansir Reuters (12/12), Laporan Senat AS menyebutkan, kebrutalan CIA berkedok metode EIT seperti waterboarding dan kebrutalan lainnya tidak banyak berperan dalam keberhasilan penangkapan Hambali. Justeru nama Hambali pertama kali keluar dari email-email yang dikirim KSM kepada para kolega Al Qaeda-nya. Dan, CIA memantau email-email itu.
“CIA memberikan representasi tidak akurat terkait penangkapan Hambali. Dalam 18 dokumen yang dikirim CIA kepada Gedung Putih dan Departemen Kehakiman pada 2003 hingga 2009”, kata laporan itu yang disusun oleh mayoritas Sentor dari Partai Demokrat ini.
“Penilaian terhadap komunikasi CIA dan rekaman lain didapatkan informasi, bahwa metode EIT yang diterapkan kepada KSM tidak banyak berperan dalam penangkapan Hambali,” kata laporan itu. Ditambahkan laporan itu, KSM disiksa dengan waterboarding, ditenggelamkan sebanyak 183 kali, dipukuli, dan sering dilarang tidur.
Hambali, yang dianggap berbahaya oleh AS. Mantan Presiden George W. Bush menyebutnya, “Salah satu teroris paling mematikan di dunia,” adalah tersangka perencana serangan 9/11 dan pemoman di Bali yang membunuh 200 orang. Hambali ditahan di penjara militer Guantanamo, Kuba sejak 2006 tanpa persidangan.
Investigasi Thailand
Intelijen Thailand juga berperan dalam penangkapan Hambali. Sejak Polisi Indonesia menyatakan perang terhadap Jamaah Islamiyah (JI), Hambali yang kian terdesak melarikan diri ke Thailand. Penduduk Thailand-lah yang membuka jalan, mereka curiga dengan kehadiran pria asing berjenggot yang tidak seperti orang Thailand pada umumnya. Atas laporan masyarakat, intelijen Thailand terus memata-matai Hambali.
“Kami menerima informasi dari penduduk tentang orang aneh yang tinggal di sekitar mereka. Jadi, kami periksa latar belakangnya dan paspornya lalu menyadari bahwa ini adalah orang yang kami cari,” Kata Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra pada 2003.
Sumber-sumber CIA juga berperan dalam menemukan posisi Hambali di Thailand. Bekerjasama dengan intelijen Thailand, menangkap Hambali.
Meski begitu, mantan Direktur CIA, Michael Hayden mengatakan kepada Fox News pada Kamis minggu lalu, bahwa yang dikatakan kebrutalan CIA itu sangat berguna. Hingga kini CIA masih menggunakan informasi dari interogasi bermetode EIT meskipun telah menimbulkan kontroversi. “Interogasi ini membuat para tahanan seperti gudang informasi tentang Al Qaeda. Kami masih bergantung kepada metode interogasi ini hingga hari ini,” kata Hayden. Sebelumnya, Direktur CIA, John Brennan juga membela kebrutalan CIA ini sebagai sangat bermanfaat.

