Meskipun harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah dua kali turun sepanjang Januari 2015 ini, tapi belum berdampak signifikan terhadap harga kebutuhan pokok. Seperti harga telur yang masih tinggi.

Selain telur, harga beras juga masih melambung di kisaran Rp 8500-Rp 9000 perliter. Sedangkan minyak goreng kemasan seharga Rp 13 ribu-Rp 14 ribu perliter dan gula putih Rp 13 ribu perkilo gram. Ia menilai harga BBM yang tidak menentu membuat harga kebutuhan pokok tidak bisa turun langsung.
Ia juga berpendapat bahwa kemungkinan harga telur yang terus melambung dipengaruhi oleh faktor cuaca. Sedangkan harga beras adalah semata karena unsur panen petani.”Kan biasanya kalau panennya bagus, hasil padinya bagus harga beras bisa turun. Sebaliknya kalau panen gagal yang ngaruh pada harga beras mahal,” ujarnya.
Hal yang sama juga dikatakan agen telur, Indah Dewi. Menurutnya, sekalipun harga BBM turun tidak berpengaruh pada harga telur. Ia mengaku masih menjual telur seharga Rp 22 ribu perkilo gram. Ia memperkirakan harga telur akan turun pada Februari nanti setelah Implek. “Harga telur naik mungkin selain faktor cuaca juga karena imlek,” kata Indah.
Indah mengaku kesulitan untuk menurunkan dagangannya karena dari pemasok masih cukup tinggi. Karena itu, ia mengatakan belum berani untuk menurunkan harga kebutuhan pokok sekalipun pemerintah menyarankan agar pedagang di pasar segera menurunkan harga.
Demikian pula dengan Suyatna, pedagang lainnya mengeluhkan harga daging sapi yang juga turut naik. Menurutnya, harga daging sapi saat ini mencapai Rp 110 ribu perkilo gram dari harga sebelumnya Rp 95 ribu. “Ya mau gimana lagi saya tidak bisa menurunkan harga daging, walaupun pemerintah berkoar harus diturunkan,” ujarnya.
Namun demikian, Sarti merasa sedikit lega karena harga cabai mulai turun sejak empat hari terakhir ini. Saat ini harga cabai merah keriting Rp 40 ribu perkilo gram, cabai rawit merah Rp 55 ribu perkilo gram, dan cabai rawit hijau Rp 30 ribu per kilo gram. Sedangkan bawang merah dan bawang putih masing-masing Rp 20 ribu perkilo. “Sebelumnya harga cabai rawit merah mencapai Rp 100 ribu perkilo gram,” katanya.
Harga kebutuhan pokok juga dikeluhkan oleh Atika Jubanto, seorang ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar tersebut. Menurutnya, sekalipun pemerintah merasa bijaksana menurunkan harga BBM dua kali dalam bulan Januari 2015 ini, namun tetap saja rakyat masih menjerit.Ia menilai, kebijakan pemerintah menaikan dan menurunkan harga BBM seperti sebuah dagelan penuh intrik yang seribu persen melukai rakyat kecil. Pasalnya, kata Atika, bisik-bisik terhadap Jokowi begitu hebat sekalipun ketika November tahun lalu minyak dunia di kisaran 80 US dollar perbarel.
Namun dengan tegas orang nomor satu Republik ini mengumumkan kenaikan BBM bersubdisi dengan alasan untuk pembangunan infrasturktur, kesehatan dan pendidikan. Pada Januari 2015, ketika minyak dunia kembali terjun bebas 50 US dollar perbarel, Jokowi pun kembali menurunkan harga BBM.”Hebat memang, tapi keliru kebijakan itu tetap saja tidak berpihak pada rakyat kecil,” tegas Atika.
Atika mengaku menyesal telah memilih Jokowi sebagai Presiden Indonesia pada Piplres lalu. Padahal ia sangat mengidolakan Jokowi. Ia berharap agar Jokowi meninjau harga kebutuhan pokok langsung ke pasar, seperti dahulu ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta dan Walikota Solo. “Jangan cuma lempar kebijakan kepada pasar untuk menurunkan harga keburuhan pokok. Jokowi juga harus bertindak tegas karena monopoli harga masih tinggi,” imbuhnya.

