Penutupan Rakernas MUI II di Hotel Mercury Ancol, Jakarta, Kamis malam (24/11). Foto:MUI.

Hasil Rakernas, MUI Tegaskan Komitmen Kebangsaan dan Kebangsaan

[sc name="adsensepostbottom"]

Komitmen Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah final dan mengikat

Rakernas MUI II bertajuk ”Meningkatkan Peran MUI Dalam Melayani dan Melindungi Umat’, yang digelar di Hotel Mercury Ancol dari 23-24 November 2016, menghasilkan sejumlah poin penting terkait peran lembaga tersebut dalam merawat keutuhan bangsa.

MUI mencermati perkembangan situasi kehidupan kebangsaan akhir-akhir ini telah mengarah pada instabilitas nasional. Dewan Pimpinan MUI pun menegaskan kembali komitmen kebangsaan dan ke-Indonesiaannya.

”Eksistensi NKRI tak lepas dari perjuangan ulama dan umat Islam. Dengan demikian, komitmen Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bagi MUI adalah final dan mengikat,” kata Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin dalam keterangan tertulis yang diterima MySharing, Kamis malam (24/11).

MUI sebagai payung umat Islam sebagian terbesar bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam memelihara keutuhan NKRI dan menjaga kebhinneka dari segala bentuk ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Bagi MUI, kesepakatan bangsa Indonesia membentuk NKRI berdasarkan Pancasila mengingkat seluruh elemen bangsa. Kesepakatan tersebut merupakan tanggung jawab keagamaan (mas’uliyah dim’syah) sekaligus tanggung jawab kebangsaan (mas’uliyyah wathaniyyah) yang bertujuan untuk memelihara keluhuran agama dan mengatur kesejahteraan hidup bersama (hirasat ad’din wa siya’sad ad-dunya).

”Sebagai bagian dari warga bangsa, umat beragama terikat oleh komitmen kebangsaan. Umat beragama harus hidup berdampingan dengan prinsip kesepakatan (mu’ahadah atau muwatsaqah), bukan posisi saling memerangi (muqatalah atau muharabah),” tegas Ma’ruf.

MUI mengingatkan kepada seluruh penyelenggara negara, tujuan dibentuk NKRI adalah untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

”Tujuan yang luhur tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh rakyat Indonesia, khususnya umat Islam,” ungkap Ma’ruf.

Untuk itu, MUI meminta pemerintah agar lebih berpihak kepada kepentingan rakyat kecil (mustadh’afm) sehingga tidak terus terjadi kesenjangan dan ketidakadilan yang semakin melebar.

Sebagai elemen bangsa, MUI merasa bertanggung jawab untuk ikut mengambil bagian dalam ikhitar menjaga, mengawal, dan merawat keutuhan bangsa. MUI pun bersemangat untuk merajut persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyah). Untuk itu, MUI berketepan hati segera menggelar dialog nasional yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar umat beragama di Indonesia.

Hasil rakernas MUI II yang ditanda tangani Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin dan Sekjen MUI Anwar Abbas ini dirumuskan oleh tim yang terdiri dari Zainut Tauhid Sa’adi, Noor Achmad, Sholahuddin Al-Aiyub, Buya Gusrizal Gazahar, Samlan Ahmad, Prof Rahmat Syafei, KH Ainul Yaqin, dan Arif Fahrudin.