Suasana Haul Soeharto "Shalawat dan Zikir untuk Negeri", di Masjid At-Atin Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu malam (11/3).

Haul Soeharto “Shalawat dan Zikir” untuk Negeri

[sc name="adsensepostbottom"]

Shalawat, zikir, dan doa terpanjatkan untuk melanjutkan perjuangan almarhum Soeharto membangun kesejahteraan bangsa Indonesia.

Haul almarhum Presiden Soerhato berjalan begitu hikmah, pada Sabtu malam (11/3).Taburan shalawat zikir dan doa terus berkomandang dari para jamaah yang hadir memadati Masjid Agung At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Jammah yang bershalawat membludak hingga ke halaman masjid, bahkan di ruas jalan Raya TMII. Hanya satu tujuan doa yang dipanjatkan yakni untuk almarhum Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soehaeto serta utamanya lagi untuk bangsa dan negara tercinta Indonesia. Sehingga tak salah, kalau Haul Pak Harto ini bertajuk “Shalawat dan Zikir untuk Negeri”.

“Saya  mewakilin keluarga besar almarhum haji Muhammad Soeharto,  mengucapkan terima kasih atas kehadiran bapak dan ibu  yang telah memenuhi undangan haul Pak Harto. Dengan membaca shalawat, zikir, dan doa, agar negeri kita dijauhkan dari bencana dan malapetaka, harapannya negeri ini makmur dan sejahtera,” kata Titiek Soeharto dalam sambutannya.

Pada kesempatan ini, Titiek pun bertutur, bahwa kisah Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), yakni 51 tahun lalu adalah merupakan tongkak sejarah pemerintahan orde baru (Orba) dibawah kepemimpinan Soeharto. “Selama lebih 32 tahun,  beliau memberikan darma baktinya mencurahkan tenaga dan pikiran untuk membangun negeri, bangsa, dan rakyat yang sangat beliau cintai,” ucap Titiek.

Dengan menggunakan strategi trilogi pembangunan, lanjut Titiek, Presiden Soeharto membangun  stabilitas pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Berbagai pembangunan dilaksanakan terutama di bidang pertanian, infrastruktur, dan kesejahteraan rakyat. Pembangunan  itu hingga Soeharto mendapat penghargaan dari dunia international pada 1976, karena keberhasilan dalam swasembada beras. Tahun 1989 dari PBB, yakni  kesuksesan program Keluarga Berencana (KB).

Menurut Titiek, begitu banyak keberhasilan orba yang dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia.Kita sudah siap-siap tinggal landas, namun krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara 1997 berdampak juga kepada negara Indonesia.Sehingga, tegas Titiek,  kita stres di ujung landasan, kita dilanda krisis ekonomi dan multidementional yang akhirnya membawa Presiden Soeharto mengambil keputusan untuk berhenti sebagai presiden.

“Saya masih ingat satu malam sebelum pak Harto memutuskan untuk lengser.Belaiu memanggil kami putra-putrinya. Beliau mengatakan, bahwa besok saya akan berhenti sebagai presiden. Lalu 4 orang dari kami menanyakan, apakah bapak sudah siap dan yakin dengan apa yang bapak putuskan? Beliau hanya mengatakan, bahwa sejarah akan membuktikan apa yang telah bapak ibu-mu perbuat untuk bangsa ini,” ucap Titiek disambut pekik Allahu Akbar para jamaah.

Namun, kata Titiek, 20 tahun reformasi berjalan tidak membuat negara ini lebih baik, bahkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin masih jauh. “Saya sangat setuju apa yang dikatakan bapak presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Bahwa demokrasi kita sudah kebablasan, tidak ada lagi demokrasi yang selalu didenggungkan oleh Bung Karno,tidak ada lagi demokrasi Pancasila yang didenggungkan oleh pak Harto. Yang ada adalah demokrasi liberal, dimana setiap orang bisa berkata dan berbuat seenaknya tanpa mengindahkan norma-morma ketimuran yang kita miliki,” papar Titiek.

Perubahan dan keadaan yang tidak di negeri ini menimbulkan  ketidaknyaman di berbagai tempat.Hingga akhirnya, kata Titiek, kita sering mendengar orang mengatakan enak zaman pak Harto yakni aman, ngampang cari makan dan cari kerja. “Akhirnya, saya bepikir mungkin ini yang dikatakan oleh bapak sebelum beliau lengser, bahwa sejarah akan membuktikan  apa yang telah bapak dan ibu-mu perbuat untuk  bngsa ini,” ujar Titik.

Titiek sangat bersyukur begitu banyaknya rakyat Indonesia yang mendoakan almarhum presiden Soeharto. Titiek pun mengajak para jamaah yang hadir dan juga rakyat seluruh Indonesia, bersama-sama melanjutkan perjuangan Soeharto untuk membangun dan menyejahterakan bangsa ini.

Kita kembalikan pilarnya demokrasi yang kebablasan itu seraya  berdoa dan  memohon kepada Allah SWT agar kita diberikan kekuatan lahir bahtin dalam menghadapi segala cobaannya, dijauhkan dari malapetaka dan bencana, serta diangkat dari kemiskinan dan kebodohan,” pungkas Titiek.