Sangat nyata bahwa arus belajar bukanlah atheisme, sekularisme, radikalisme, tapi Islam moderat.
Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid menyebutkan, bahwa Indonesia tidak hanya besar dalam jumlah penduduk beragama Islam, tapi juga dalam jumlah pendidikan Islam.
“Indonesia juga terbesar dalam jumlah pesantren dan perguruan tinggi Islam, Tapi sayangnya, ini yang sering dilupakan,” kata Hidayat di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Hidayat, meski besar dalam segi kuantitas, tapi persoalannya adalah bagaimana meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan Islam. Contohnya, kata dia, adalah tentang penguasaan bahasa asing seperti bahasa Arab, Inggris, dan China perlu dikuatkan kualitasnya.
- “D-8 Halal Expo Indonesia 2026”, Tegaskan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Ekonomi Halal
- BSI Catat Penjualan Emas Tembus 2 Ton, Nasabah Nikmati Kenaikan Harga
- Musim Dingin di Palestina, BMM Kirim Relawan Untuk Distribusi Bantuan Kemanusiaan
- CIMB Niaga Luncurkan CIMB Private Wealth, Standar Baru Pengelolaan Kekayaan Nasabah HNWI
Hidayat menegaskan, Indonesia adalah satu-satunya negara yang memasukkan tujuan pendidikan dalam konstitusi. Pasal 31 ayat 3 menyebutkan pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemudian, lanjut dia, pasal 31 ayat 5 berbunyi pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. “Ini jelas tercermin, bahwa pendidikan menyeimbangkan antara iman, taqwa, dan ahlak mulia dengan kecerdasan ilmu pengetahuan serta teknologi dengan menjunjung tinggi agama,” ungkap Hidayat.
Disampaikan dia, pendidikan yang berkualitas termasuk di perguruan tinggi menghasilkan pemikiran Islam yang moderat. Maka sangatlah nyata, bahwa arus belajar bukanlah atheisme, sekularisme, radikalisme, melainkan moderat. Yang ingin dikesampingkan, tegas Hidayat, adalah Islam yang moderat, Islam yang jauh dari intoleran, radikal., tapi Islam yang rahmatan lil alamin.

