Dalam rapat konsolidasi gerakan Aksi Bela Islam, para ulama dan tokoh nasional menyampaikan pendapatnya. Fahira Idris mengajak hilangkan rasa takut!
Di ruang Puri Putri Lantai 2 Grand Sahid Hotel, Jakarta, Selasa 1 November 2016 pukul 18.00 WIB, telah berlangsung pertemuan konsolidasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI).
Konsolidasi ini dihadiri para tokoh umat dan tokoh nasional. Mereka pun mengemukan pendapat terkait Aksi Bela Islam yang akan digelar pada Jumat 4 November 2016 setelah shalat Jumat menuju Balaikota berlanjut ke Istana Negara.
Dalam rapat konsolidasi, Ketua GNPF MUI Ustad Bachtiar Nasir mengatakan, bahwa GNPF MUI bukan gerakan politik. Ini gerakan murni penegakan hukum dan jihad konstitusional. “Jadi murni aksi damai dan bukan aksi chaos. Ini bisa jadi aksi people power. Karena kita tidak bisa mengukur apa yang akan terjadi. Sepertinya revolusi mulai bergulir. Presiden sedang gagal faham, dengan datang ke Prabowo akan adem? Kita bukan dibelakang Prabowo,” ungkap Bachtiar.
Kembali Bachtiar menyampaikan, bahwa Letupan yang terjadi di Pulau Pari Kepulauan Seribu merupakan takdir. Padahal rangkaian kesalahan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, selama ini dibekingi pengusaha dan dilindungi Presiden Joko Widodo.
”Ahok ini hanya poin yang diatur oleh Jokowi dan Mega yang mana rajanya Komunis dan Kolonialisme. Sehingga aroma aksi ini kita mengarah kembali ke UUD 1945. Tetapi dalam bingkai Kebhinekaan Indonesia, jadi kita juga mengundang tokoh nasional. Kamis malam juga kita akan berkumpul,” ujarnya.
Putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri memicu perhatian dalam rapat konsolidasi GNPF MUI di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Selasa malam (1/11).
Pada kesempatan ini, adik kandung Megawati Soekarnoputri ini menyebutkan, banyak hal dia bicarakan saat bertemu dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab pada Senin malam (31/10).
Setelah bertemu dengan Habib Rizieq Syihab, Rachmawati mengaku merasa mendapat keberkahan, dan dirinya pun tahu apa yang selama ini diisukan oleh orang-orang atau kelompok yang tidak bisa memahami kita.
”Kita seharusnya bersatu dalam NKRI, mempunyai satu visi misi yang sama tercipta. Gerakan ini akan menjadi bola salju jika kasus dugaan penistaan agama tidak cepat ditangani,” tegas Rachmawati.
Fahira Idris, anggota DPD RI memberikan suntikan semangat bagi para peserta aksi dari seluruh Indonesia untuk tidak takut datang ke Jakarta dalam Aksi Bela Islam. Fahira mengatakan kalau dirinya akan hadir pada Jumat 4 November 2016. Bahkan, rencananya anggota DPD yang Muslim juga mengerahkan massa dari seluruh Indonesia dan juga akan mendukung logistiknya.
”Stigma-stigma dari musuh-musuh Islam terhadap aksi ini yang menyebut aksi intoleran, aksi SARA, hingga aksi teror tidak usah dihiraukan. Karena sesungguhnya aksi ini adalah murni aksi penegakan hukum,” tegas Fahira.
Adapun KH. Abu Jibril, Wakil Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menuturkan, jika nanti kita tidak kembali di tengah keluarga kita berarti ini adalah memang waktunya kita berjihad.
E.Mayjen Budi (Gerakan Bela Negara) menyampaikan, ada empat kelompok dalam gerakan ini, yaitu penegakan hukum, penjaga idiologi, menginginkan kembali ke UUD 1945 dan meminta turunkan Jokowi-JK.
”Jadi agar kita menurunkan egonya. Mari kita rencanakan dengan detail agar dalam satu komando. Karena yang saya lihat dalam titik kumpul ada yang di Bareskim, Kemenhan, Balaikota. Saya harap ada pertemuan secara teknis,” ujar Budi.
Politisi Ratna Sarumpaet mengaku dirinya telah bertemu dengan Habib Rizieq, kemudian dalam pertemuan itu didatangkan oleh teman-teman non Muslim yang menyayangkan kehadiran dirinya. ”Benar apa yang disampaikan bahwa saya setuju agar kembali kepada UUD 1945 yang telah dihianati dengan adanya amandemen. Saya minta teknis bagaimana seandainya lokasi aksi dari Istana Negara ke MPR RI,” ujar Ratna.
Adapun Rita Subagio, dari Gerakan Indonesia Beradab: ”Kami berpusat di akademisi yang berada di kampus. Pak Ahok kalau tidak beradab berarti biadab,” tegasnya.
KH Muhamad Siddiq, dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengatakan, bahwa aroma meminta kembalinya UUD 1945 mulai muncul, dan itu sangat baik, mari kita dukung.
M Al Khaththoh, Sekjen FUI menyatakan, jika nanti tuntutan aksi ini tidak dipenuhi, dan seandainya lebih dari 100.000 orang serta harus menginap. “Kami mendapatkan informasi dari pimpinan DPR akan membuka gerbang dan mempersilahkan menginap di DPR,” ujarnya.
Munarman menyebutkan, tanggal 3 November 2016 rapat teknis pengamanan terakhir di Markas Syariah. Arus masuk, bagi yang shalat Jumat di Istiqlal mulai masuk dari subuh. Jika tuntutan kita tidak dipenuhi kalau ada kemungkinan menginap di area patung kuda, bundaran HI atau gedung MPR/DPR.
[bctt tweet=”Pak Ahok kalau tidak beradab berarti biadab” username=”my_sharing”]
Adapun musisi Ahmad Dhani dengan tegas dia mengatakan, bahwa dirinya adalah Islam yang toleran. “Islam toleran punya toleransi. Jadi teman-teman Islam kita yang dibelakang Ahok adalah Islam jongos. Ahok mencenderai toleransi Islam. Daripada Ahok jadi presiden, mending kita jadi negara Islam,” tukas Dhani.

