house of sampoerna

House of Sampoerna: Falsafah Tiga Tangan Seeng Tee

[sc name="adsensepostbottom"]

Bangunan itu mengisahkan bangkitnya konglomerasi Tionghoa Surabaya sejak awal abad 20. Terlepas dari soal halal haram rokok di Indonesia, bisnis itu niscaya juga soal keteguhan memegang falsafah usaha, seperti yang dilakukan kelompok usaha Sampoerna.

house of sampoernaTiga jari telunjuk yang menyatu dalam satu lingkaran menunjuk ke tiga arah. Simbol ini mudah ditemui di dalam House of Sampoerna karena menghiasi setiap dinding di dalam museum. Falsafah Tiga Tangan. Begitulah Sampoerna menyebut jaringan tiga jari yang menyiratkan jaringan produsen, konsumen dan distributor. Tiga elemen terpenting dalam roda perdagangan. Simbol itu juga menandakan pentingnya kerja sama tiga pihak tersebut dalam mendukung roda perekonomian dan mencapai win-win solution yang menghasilkan keuntungan bersama. Pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee pun memegang teguh falsafah tersebut dalam menjalankan perusahaannya.

Tiada hasil tanpa kerja keras. Peribahasa Cina ini tampaknya dipegang teguh oleh Seeng Tee ketika menapaki awal usahanya sejak zaman Belanda. Bermigrasi ke Indonesia di tahun 1898 dari sebuah desa di provinsi Fujian, Cina, Seeng Tee bersama ayah dan saudara perempuannya mencoba peruntungan di tanah air. Sayang beberapa waktu kemudian ayah Seeng Tee meninggal dunia. Hal itu membuat Seeng Tee muda bekerja demi menghidupi dirinya secara mandiri. Berbagai macam pekerjaan dijabaninya, mulai dari berdagang makanan di kereta api selama 18 bulan, hingga mampu membeli sebuah sepeda second yang dipakainya untuk berjualan arang dengan berkeliling wilayah Surabaya.

Usahanya kemudian mulai berbalik arah ketika sebuah kesempatan datang saat sebuah perusahaan tembakau dijual karena bangkrut. Dengan tabungan yang telah disisihkan dari hasil kerjanya, ia dan istrinya memutuskan membeli perusahaan tersebut. Keahlian Sampoerna dalam meracik tembakau menjadi pilar dalam roda perusahaan yang perlahan semakin berkembang. Kumpulan 100 Classic Marketing Stories yang dihimpun Markeeters pun memasukkan kisah produk Sampoerna itu ke dalamnya, dimana usaha itu tetap bertahan di tengah pergantian era politik Indonesia dan naik turunnya perekonomian tanah air. Marketeers bahkan menyebutkan produk tersebut sempat menjadi mata uang di kalangan pedagang di era 1930-1940an karena dianggap nilainya lebih stabil dibanding mata uang yang berlaku saat itu.

House of Sampoerna

Usaha Sampoerna yang terus berkembang kemudian menimbulkan kebutuhan akan ruangan yang lebih besar yang bisa dipakai sebagai ruang produksi. Perhatian Sampoerna kemudian beralih ke sebuah bangunan besar yang terdiri dari tiga bangunan, terletak di utara Surabaya. Komplek gedung yang terdiri dari tiga bangunan itu kemudian dibeli Sampoerna pada 1932, dimana satu gedung utama yang terletak di tengah dijadikan pusat produksi, sedangkan dua bangunan lainnya yang terletak di kanan kiri bangunan utama menjadi tempat tinggal Sampoerna dan keluarganya.

house of sampoernaKedekatan tempat tinggal keluarganya dengan pusat produksi memang sengaja dilakukan oleh Sampoerna, agar anak-anaknya dapat mengetahui bisnis yang dijalankan keluarga dan bisa langsung mempelajarinya di lapangan. Di sisi lain, kedekatan dengan pusat produksi usahanya juga memungkinkan dirinya untuk mengawasi segala aspek operasional bisnisnya yang berjalan seminggu penuh selama 12-15 jam sehari, tergantung pada permintaan dari para agen.

Tradisi tersebut pun masih dipegang sampai sekarang, meski Sampoerna kini fokus pada lini bisnis lainnya. Sebagian besar bangunan utama memang telah berubah menjadi museum, tetapi pengunjung masih bisa melihat proses produksi di bagian belakang bangunan, dimana ratusan pekerja menghasilkan 325 batang per jam. Sementara sayap kiri bangunan (sebelah timur) dialih fungsi menjadi café dan galeri seni, sayap kanan bangunan (sebelah barat) masih menjadi tempat tinggal keluarga Sampoerna. Kedua bangunan yang mengapit gedung utama ini memiliki denah bangunan yang terbalik sama satu sama lain, seperti cermin.

House of Sampoerna yang berlokasi hanya beberapa blok dari ChinaTown dan dekat dengan pusat kotaSurabaya merupakan komplek bangunan dengan arsitektur Belanda yang dibangun pada 1862. Saat Sampoerna membelinya pada 1932 bangunan tersebut adalah komplek panti asuhan yang dikelola oleh kolonial. Bangunan itu kini menjadi salah satu cagar budaya di Surabaya.

Fungsi bangunan utama House of Sampoerna dari waktu ke waktu pun tak selamanya menjadi pusat produksi, tetapi pernah pula beralih fungsi menjadi bioskop dan gedung teater yang bermula dari ide istri Seeng Tee.

Pada zaman 1930 hingga 1960 bangunan tersebut menjadi salah satu bioskop terbesar di kotaSurabaya dengan dilengkapi oleh proyektor modern. Auditorium yang luas di bagian belakang gedung utama menjadi tempat pertunjukan. Namanya pun berganti menjadi Sampoerna Theater. Beragam genre film sempat diputar di tempat itu, mulai dari film produksi dalam negeri hingga film Barat yang populer di masa itu. Film-film Barat yang diputar di masa itu diantaranya adalah film-film yang dibintangi Charlie Chaplin dan Marilyn Monroe, sedangkan pertunjukan teater diantaranya adalah Roro Mendoet I, Lelutjon, ketoprak Darmo Tjarito, Pandji Soemirang, dan Lenggang Djakarta.

Bahkan ketika Charlie Chaplin mendatangi Indonesia, ia sempat berkunjung ke Surabaya dan menyambangi Sampoerna Theater di tahun 1930-an. Jejak rekam House of Sampoerna yang pernah menjadi bioskop ditunjukkan dengan menempatkan gambar Marilyn Monroe dan Charlie Chaplin di kedua sisi pintu masuk gedung utama.

Sampoerna Theater di masa itu ternyata juga tak hanya digunakan untuk menggelar berbagai pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Teater tersebut pernah digunakan oleh orator Indonesia, Soekarno untuk berpidato tentang pergerakan dan perjuangan rakyat Indonesia terhadap penjajahan di tahun 1932, usai Soekarno dibebaskan dari penjara Sukamiskin, Bandung pada 1931.

Pada tahun 1961 fungsi gedung Sampoerna Theater dikembalikan ke tujuan awalnya yaitu sebagai pusat produksi bisnis Sampoerna. Hingga pada 2003 bangunan seluas 1,5 hektar ini direstorasi dan dibuka untuk publik. Gedung utama berlantai dua diubah menjadi museum. Di lantai pertama pengunjung dapat melihat berbagai memorabilia milik Sampoerna, mulai dari sepeda ontel yang digunakan oleh Seeng Tee, meja kerja, hingga berbagai alat produksi. Di lantai kedua terdapat toko cinderamata yang tidak hanya menjual pernak-pernik Sampoerna, tetapi juga batik dan cindermata khas Indonesia lainnya.

Rumah bagian barat yang masih dihuni keluarga Sampoerna tertutup untuk umum. Di sebelah bangunan itu terpampang sebuah mobil Rolls Royce merah marun berplat nomor SL 234 milik Putra Sampoerna yang pernah digunakannya saat bermukim di Singapura pada 1974 hingga 1994.Sementara, rumah di sebelah timur digunakan untuk café, galeri seni, dan toko cinderamata. Café House of Sampoerna menyajikan pula hidangan khas Indonesia seperti sop buntut, gado-gado hingga wedang jahe.