Ilmuwan Muslim ini menemukan alat uji Corona tercepat. Hanya butuh lima waktu lima menit untuk mendapatkan hasil dari sebuah pengujian.
Adalah Profesor Jackie Ying, mualaf Singapura, kepala Lab NanoBio di perusahaan sains, teknologi, dan penelitian, A*Star yang memimpin tim penemu ini. Jika penggunaan alat tes ini mendapat persetujuan dari pihak berwenang, nantinya akan menjadi tes Covid-19 tercepat di dunia.
Tim peneliti ini berharap alatnya mendapatizin dari otoritas dalam waktu satu bulan. Dilansir dari The Straits Times, , tes ini mencari bahan genetik virus dalam sekresi pasien yang dikumpulkan dari uji swab (tenggorokan).
Sampel ini lalu dimasukkan ke dalam perangkat portabel yang akan mengeluarkan hasil sekitar 5-10 menit. Metode pengetesan yang sangat cepat ini dinamakan “Cepat”.
- “Hijrah Lebih Bermakna” Refleksi Perjalanan Panjang 34 Tahun Bank Muamalat
- Fauzi Arfan Resmi Terpilih sebagai Ketua Umum AASI 2026–2029
- Milad ke-34, Bank Muamalat Perkuat Sinergi Filantropi: Renovasi Masjid-Musala di Wilayah Bencana Sumatera
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
Menurut Ying mekanisme tes seperti Polymerase Chain Reaction (PCR). Perbedaannya, mereka menggunakan enzim khusus sehingga tak perlu pemanasan dan pendinginan mesin PCR. “Karena 60% waktu hanya digunakan untuk menunggu mesin PCR,” kata Ying.
Dia juga menjelaskan pengembangam tes cepat dilakukan setelah pemimpin A*Star Frederick Chew menantang ilmuwan di sana untuk menemukan metode tes massal Covid-19 yang paling efisien. Sebelumnya laboratorium ini bekerja sama dengan MiRXES untuk memproduksi PCR.
“Krisis ini telah memaksa Singapura untuk meninjau ulang apakah kami memiliki kemampuan, dan kami mampu,” kata Ying. Pekan lalu Direktur Jenderal badan kesehatan dunia (WHO) Tedros Adhanom Gebreyesus meminta semua negara menggelar tes massal sebagai kunci untuk menghentikan pandemi.
“Pesan kami sederhana, tes, tes, tes,” kata Tedros. Ying dan A*Star bukan ilmuwan pertama yang mencari jalan keluar dari penyebaran virus corona. Sebelumnya ilmuwan Duke bersama National University of Singapore Medical School berencana mengembangkan vaksin Covid-19.

