Indef Menilai Pengendali Harga Beras Tumpul

[sc name="adsensepostbottom"]

Jika produksi cukup, niscaya tidak akan ada insentif untuk mendominasi pasokan beras.

Direktur Institute of Development for Econom and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, jumlah penggilingan padi berdasarkan sensus pertanian mencapai 182.191 unit. Dari jumlah tersebut, penggilingan padi besar (PPB) hanya sekitar 8 persen, dan sisanya 92 persen penggilingan padi kecil (PPK), dan pengilingan padi kecil keliling (PPKL).

“Meskipun PPB hanya sebanyak 8 persen, namun menguasai pasar lebih dari 80 persen pasokan beras nasional.Sedangkan sisanya diambil oleh penggilingan skala kecil. Hal ini penyebabkan penggilingan padi skala kecil berebutan gabah,” ujar Enny dalam diskusi “Meyoal Polemik Beras” di kantor Indef, Jakarta, Kamis (27/7).

Menurut Enny, kondisi pengilingan padi di Indonesia saat ini sudah banyak, tidak sebanding dengan produksi gabah.Ini menimbulkan inefisensi pengilingan padi terutama skala kecil dan menyebabkan penurunan jumlah pengusaha pengilingan padi skala kecil.

Penurunan jumlah pengilingan padi skala kecil bukan hanya karena kalah persaingan dalam memperoleh gabah, melainkan juga faktor perubahan konsumsi beras masyarakat yang semakin menyukai untuk mengonsumsi beras premium.Beras premium hanya dapat diproduksi oleh penggilingan padi skala besar yang relatif lebih baik dalam kapasitas peralatan dan permodalan.

Kondisi persaingan penggilingan padi yang sangat ketat memicu banyak pedagang yang membuat padi diatas harga pembelian pemerintah (HPP). “Bulog tidak mampu membeli beras.Konsekuensinya, kebutuhan cadangan minimum Bulog sering tidak dipenuhi.Bulog akan kesulitan melakukan intervensi pasar pada saat harga di tingkat konsumen melonjak,” ujar Enny.

Dikatakan Enny, tumpulnya instrumen HPP akan berimplikasi membuka ruang para spekulan beras bermain mendominasi penguasaan pasokan beras. Dengan kepemilikan cadangan yang terbatas, maka berujung pada rendahnya efektivitas penerapan harga eceran tertinggi (HET).

Disamping itu, lanjutnya, tumpulnya instrument HPP dapat juga mengindikasikan produksi beras yang terbatad. Produksi di lapangan tidak banyak mengalami peningkatan, pedagang berebut untuk menguasai pasokan. “Jika produksi cukup, niscaya tidak akan ada insentif untuk mendominasi pasokan,” tutup Enny.