Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi
Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi

Indonesia dan Suriah Punya Hubungan Kebangsaan dan Keagamaan yang Kuat

[sc name="adsensepostbottom"]

Tokoh ulama internasional Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi saat ini tengah hadir di Indonesia. Apa pesan yang disampaikan oleh Ketua Ulama Suriah itu kepada bangsa Indonesia?

Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi
Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi

Dalam Seminar Internasional bertajuk “Peran Ulama dalam Rekonsiliasi Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah yang diselenggarakan oleh Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam – Universitas Indonesia (PSKTTI – UI) kemarin (10/3/2016), tokoh ulama dunia – Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi menyampaikan secara khusus kebanggaannya terhadap bangsa dan negara Indonesia.

Karena menurut Prof. al-Buthi, bangsa Indonesia dan bangsa Suriah sudah memiliki hubungan yang erat sejak agama Islam datang ke Indonesia.

“Indonesia sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di dunia memiliki hubungan dengan Suriah, tidak hanya dari sisi politik, namun juga secara kebangsaan dan keagamaan,” jelas Prof. Al-Buthi yang juga adalah Ketua Persatuan Ulama Syam itu.

Karena hubungan yang baik tersebut, Prof al-Buthi juga tak sungkan menyampaikan, bahwa dirinya juga mempunyai kecintaannya yang besar kepada bangsa Indonesia. Antara lain Prof, Al Buthi datang ke Indonesia dengan mengenakan peci hitam, yang memang menjadi kebiasaan bagi para ummat Muslim di Indonesia.

Prof. Al-Buthi mengharapkan, hubungan baik yang terjalin selama ini antara Indonesia dengan Suriah agar dapat terus berjalan, dan jangan sampai terpengaruh dengan kondisi gejolak yang terjadi di Negaranya saat ini.

Ia mengharapkan para ummat Muslim di Indonesia agar berhati-hati serta bersikap selektif terhadap berbagai berita mengenai Suriah. Artinya, jangan mudah terombang-ambing atau percaya begitu saja terhadap berita yang beredar, karena menurut Prof al-Buthi, banyak media massa yang justru memperkeruh suasana.

“Media di suriah bukan menyampaikan berita, namun malah membuat isu atau berita sendiri. Sehingga justru malah memperparah konflik yang terjadi di Timur Tengah,” demikian Prof al-Buthi.