Indonesia boleh dibilang sebagai negara yang mulai menarik minat investor global dengan pertumbuhan ekonominya yang stabil. Namun faktanya kesenjangan ekonomi masih terjadi, terutama di pedesaan.

Untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan, Yayasan Al Azhar Peduli Umat pun bersinergi dengan sejumlah perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk memberdayakan masyarakat desa.
Melalui program Indonesia Gemilang, Al Azhar Peduli Umat melakukan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan dan komprehensif melalui program kesehatan keluarga, kemandirian ekonomi, produksi, edukasi, peningkatan keahlian, keuangan mandiri non riba dan keutuhan dalam kehidupan beragama. Direktur Eksekutif Al Azhar Peduli Umat, Harry Rachmad, mengatakan program Indonesia Gemilang kini telah berjalan di 35 desa di 11 provinsi. “Diantaranya ada yang berupa kerjasama dengan korporasi sebagai bentuk CSR mereka, dimana kami bertugas untuk menyalurkan dana,” kata Harry kepada mysharing.
Dalam menentukan suatu desa untuk dibina, Harry menjelaskan ada suatu pengukuran tertentu yang telah ditetapkan. Diantara kriterianya adalah masuk kategori sebagai desa tertinggal, punya potensi, dan memerlukan dukungan untuk berubah. Ia pun menyontohkan sebuah desa di Muara Enim, Sumatera Selatan, yang punya potensi sebagai penghasil kopi. Desa ini menjadi salah satu sinergi program Al Azhar Peduli Umat dengan CSR Bukit Asam (perusahaan batubara). Baca Juga: Bersinerginya Sedekah Ikan dengan Tebar Hewan Kurban
Harry menuturkan desa tersebut awalnya tidak punya aliran listrik dan sangat tradisional dalam mengolah biji kopi. “Karena masyarakat desa tidak memiliki alat pengupas biji kopi, maka mereka menjemur kopinya di jalan dan membiarkannya terlindas oleh kendaraan,” ungkap Harry.
Akhirnya, dibangunlah pembangkit listrik tenaga mikro hidro. Saat aliran listrik sudah masuk ke desa, Al Azhar Peduli Umat bersama dengan Bukit Asam pun menyediakan alat pengupas biji kopi. “Listriknya sebulan hanya seharga satu kilogram biji kopi seharga Rp 20 ribu,” ujar Harry. Ia menuturkan dengan semakin tertatanya pemrosesan biji kopi, kini kondisi perekonomian masyarakat pun bisa lebih baik. Di desa tersebut kini juga disiapkan Saung Ilmu yang menjadi pusat interaksi belajar bersama dengan komputer LCD dan jaringan internet.
Harry memaparkan program Indonesia Gemilang di setiap desa dijalankan secara berkelanjutan selama tiga tahun, mulai dari pembinaan hingga peningkatan pemberdayaan ekonomi. “Saat program sudah selesai selama tiga tahun bukan berarti langsung kami lepas. Dalam proses tersebut kami juga menyiapkan kader di desa untuk melanjutkan program,” kata Harry.
Rumah Gemilang Indonesia
Di tahun ini program Indonesia Gemilang pun akan menambah desa binaan di Wonogiri, Jawa Tengah, dan Kalimantan. Harry menambahkan pihaknya belum merambah ke Indonesia bagian timur karena belum memiliki akses untuk ke sana. Namun, untuk menjangkau masyarakat di sana, pihaknya kini mulai menggaet peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) asal Indonesia Timur untuk program Rumah Gemilang Indonesia, yang merupakan program diklat bagi kaum dhuafa dan putus sekolah berusia 17-30 tahun. “Untuk angkatan di tahun ini ada yang berasal dari Papua,” kata Harry.
Setiap angkatan sebanyak 120 orang akan menjalani diklat selama 6 bulan. Selain menerima materi di kelas, peserta juga akan magang di perusahaan sesuai dengan program diklat yang diikutinya. Setidaknya ada 15-20 perusahaan di Jabodetabek yang bekerjasama dengan Al Azhar Peduli Umat untuk program Rumah Gemilang Indonesia. “Dan biasanya setelah magang mereka juga diminta untuk bekerja di perusahaan-perusahaan itu,” cetus Harry, bangga.
Ada 6 kelas reguler dan 3 kelas non reguler di Rumah Gemilang Indonesia. Program regulernya adalah desain grafis, fotografi dan videografi, teknik komputer dan jaringan, tata busana, aplikasi perkantoran, dan otomotif. Sedangkan kelas non reguler adalah Ibu Kreatif, Da’i Melek Teknologi, dan Santri Melek Teknologi.

