Kinerja perekonomian Indonesia yang relatif stabil membuat banyak investor mulai melirik emerging market satu ini. Negara ini pun dipandang sebagai negara tujuan investasi jangka panjang.

“Dari situ belanja infrastruktur diproyeksikan meningkat enam kali lipat, dari Rp 200 triliun pada 2013 (2 persen dari PDB), menjadi Rp 1.127 triliun pada 2019 (7 persen dari PDB),” tukas Cholis.
investasiIa melanjutkan dengan asumsi belanja infrastruktur yang meningkat, maka akan mendongkrak pula sektor infrastruktur terkait lainnya seperti konstruksi, semen dan jalan tol. “Sektor terkait akan mengalami pertumbuhan yang tinggi, baik dari sisi laba (20-25 persen CAGR) maupun harga sahamnya (+250-500 persen upside) dalam jangka panjang,” jelas Cholis.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Selain itu, yang patut diperhatikan pula adalah performa saham dengan kapitalisasi menengah (middle cap). Menurut Cholis, kapitalisasi menengah punya performa yang lebih baik dari saham berkapitalisasi besar (big cap) dalam jangka panjang. Ia menyontohkan performa pada 2004-2014, middle cap mencatat performa 1.537 persen, sedangkan big cap 930 persen.
Cholis mengungkapkan metode investasi terbaik untuk memanfaatkan kesempatan ini adalah berinvestasi di reksadana saham dengan kriteria berinvestasi pada sektor yang akan diuntungkan dari pertumbuhan Indonesia dan memiliki porsi mid cap yang lebih besar.
“Ini karena saham mid cap cenderung performanya lebih baik daripada saham big cap untuk jangka panjang,” jelas Cholis. CIMB-Principal Asset Management pun memiliki ekspektasi IHSG akan mencapai level 5375 pada akhir tahun 2014.
Sementara, Direktur CIMB-Principal Asset Management, Gunanta Afrima, menuturkan pihaknya mencatat investor asing juga terus menambah porsi investasi di pasar surat utang. “Sentimen dari pemilu adalah katalis terbesar di tahun ini. Foreign flow terus masuk baik ke pasar saham maupun pasar obligasi, menunjukkan bahwa investor global makin optimis dengan perkembangan di Indonesia,” Tutupnya.

