Indonesia Perlu Branding dan Promosi Wisata Muslim

[sc name="adsensepostbottom"]

Indonesia terpaku di posisi enam untuk destinasi wisata muslim dunia. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan demi mengerek peringkat Indonesia menjadi lebih baik ke depannya, salah satunya adalah dengan gencar melakukan promosi dan branding wisata muslim.

wisata syariah_0Mengomentari posisi Indonesia pada Indeks Perjalanan Muslim Global MasterCard-CrescentRating 2015, Ketua Umum Asosiasi Hotel Syariah Indonesia (AHSIN), Riyanto Sofyan, mengatakan Indonesia masih memerlukan promosi dan branding wisata muslim. “Kelebihan Indonesia adalah kita memiliki sumber daya alam yang sangat kaya dan lebih bagus dari Singapura dan Malaysia. Hanya sayangnya kita belum dikemas dan di-branding. Kementerian Pariwisata anggaran promosinya sudah naik, harusnya untuk wisata syariah juga ditingkatkan. Harus ada lompatan kuantum,” kata Riyanto kepada mysharing, Kamis petang (5/3).

Menurutnya, produk wisata syariah pun harus disiapkan dengan standar yang tidak kalah bersaing dengan Malaysia dan perlu diterapkan dengan serius. Pada 2014 Indonesia sudah memiliki pedoman hotel syariah. “Jangan sampai lalu ada yang mengklaim sebagai hotel syariah tapi nyatanya tidak. Begitu juga dengan restoran, produknya harus sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Di sini pemerintah, pelaku industri dan DSN (Dewan Syariah Nasional) harus bekerjasama. AHSIN siap mendukung wisata syariah, pelaku industri yang lain mau bersama-sama tidak?,” ujar Riyanto.

Ia menuturkan sumber daya manusia di industri pariwisata juga harus disiapkan supaya bisa mengerti dan memahami seluk beluk wisata muslim. Ia menyontohkan seorang tour planner harus bisa mengatur jadwal wisata muslim dengan baik, misalnya memilih tempat shalat yang nyaman dan restoran halal. “Tour planner harus punya database dan keahlian yang lengkap, seperti kalau sedang berwisata di Bali kan susah dapat musholla. Nah tour planner harus bisa mengakomodasi wisatawan muslim di sana,” kata Riyanto. Baca: Pariwisata Syariah untuk Target 20 Juta Wisman

Selain itu, tambah Riyanto, destinasi objek wisata dan infrastruktur pun harus dipersiapkan dengan baik. Penilaian Indeks Perjalanan Muslim Global tidak hanya fokus pada objek wisata religi, tetapi daya tarik objek wisata secara umum. “Misalnya destinasi wisata belanja ada Jakarta Great Sale kan bisa ditawarkan ke wisatawan muslim karena mereka juga suka belanja,” tukas Riyanto.

Di sisi lain, infrastruktur utama pendukung pariwisata Indonesia juga masih lemah misalnya akses jalan, MCK yang kotor, padahal kebersihan dan sanitasi juga perlu diperhatikan. “Dengan program-program yang terfokus dan infrastruktur siap, kita akan bisa meningkatkan branding, promosi, e-commerce dan infrastruktur internet, sehingga insya Allah peringkat kita bisa lebih naik lagi,” imbuh Riyanto. Baca: Pariwisata Islami Harus Inklusif dan Modern

Ia memaparkan Bandara Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand memiliki mushola besar hingga bisa menampung wisatawan muslim untuk sholat Jumat di sana. Sedangkan, infrastruktur wisata di Malaysia dan Singapura pun lebih siap, sehingga tak heran jika dua negara itu juga menjadi favorit wisatawan muslim. Singapura setidaknya memiliki sekitar 3000 hotel dan restoran yang sudah disertifikasi oleh Majelis Ugama Islam Singapura.