Peluang bisnis asuransi di Indonesia masih terbuka lebar, industri asuransi harus serius mengarapnya.

Menurut dia, jika industri asuransi di dalam negeri tidak bergerak, maka yang akan masuk adalah negara lain di ASEAN. “Jadi, kalau kita tidak mengembangkan asuransi dengan sangat serius, justru negara lain yang akan masuk untuk lirerasi asuransi dan nanti kita hanya bisa mendapatkan yang belum tergarap oleh mereka,” kata Eddy dalam seminar Media Asuransi bertajuk “ Peran Public Relation dalam Kesuksesan Bisnis Asuransi,” di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (17/3).
Eddy menegaskan, sebenarnya peluang bisnis asuransi sangat terbuka lebar dan belum serius dikembangkan. Misalnya asuransi untuk sektor pariwisata. Bisnis ini peluangnya sangat besar karena jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia cukup besar.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
“Kita dorong asuransi untuk sektor pariwisata. Bagaimana wisatawan yang mendarat di Indonesia bisa langsung di cover asuransi selama mereka berilur di Indonesia,” papar Eddy.
Selain itu, lanjut dia, bisnis yang bisa di sasar adalah asuransi bencana. Karena di Indonesia banyak terjadi bencana, maka sektor ini juga bisa menjadi peluang bisnis untuk industri asuransi. Eddy berharap berharap di setiap bencana sudah ada asuransi, sehingga pemulihan jauh lebih cepat.

