Industri Keuangan Syariah Tumbuh Double Digit di 2014

Krisis keuangan global dinilai tidak akan berdampak pada industri keuangan syariah. Walau kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara mengalami gejolak Arab Spring tetap ada optimisme bagi industri keuangan syariah untuk bertahan di 2014.

Menurut CEO Al Huda Centre of Islamic Banking and Economics (CIBE), Zubair Mughal, industri keuangan syariah akan tumbuh double digit di tahun ini, dari 1,6 triliun dolar AS pada 2013 menjadi 2 triliun dolar AS di akhir 2014. Pertumbuhan itu akan didorong oleh semakin meningkatnya tren keuangan syariah di Eropa dan Inggris, serta di negara-negara Afrika Utara (Tunisia, Libya, Maroko, Senegal dan Mauritania). Pasar sukuk internasional yang mulai kembali bergeliat juga akan turut memberikan kontribusi bagi industri keuangan syariah secara keseluruhan.

“Sukuk akan tumbuh pesat di 2014 tidak hanya di negara-negara muslim tetapi juga non muslim seperti di Inggris, Cina, Afrika Utara dan Eropa, sehingga akan mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah, walau untuk asuransi syariah tidak akan ada terobosan yang substansial,” papar Mughal, sebagaimana dilansir dari 4-traders.com, Jumat (10/1). Tahun 2014 diharapkan menjadi periode yang lebih baik bagi industri keuangan mikro syariah, dimana Islamic Development Bank (IDB) telah menyatakan mikro syariah sebagai alat potensial untuk pengentasan kemiskinan di seluruh dunia.

India dan Cina pun menjadi pasar baru yang akan mulai merambah ke dunia keuangan syariah global. Dengan jumlah populasi muslim mencapai 200 juta orang menjadi pasar potensial bagi industri keuangan syariah untuk berkembang di dua negara tersebut. Mughal mengatakan industri keuangan syariah akan tumbuh pesat di tahun ini dan volumenya akan melampaui 2 triliun dolar AS, dimana pangsanya adalah 78 persen perbankan syariah, sukuk 16 persen, asuransi syariah 1 persen, islamic funds 4 persen dan keuangan mikro syariah 1 persen.

Di tahun 2014 juga menjadi ajang kompetisi bagi Dubai London, dan Malaysia yang berlomba-lomba untuk menjadi pusat keuangan syariah dunia. “Namun sebenarnya industri keuangan syariah bisa berkembang lebih pesat lagi jika saling bersinergi dan beraliansi antara pemangku kepentingan daripada saling berkompetisi satu sama lain,” kata Mughal.

Kendati demikian, tambah Mughal, tantangan resesi bagi industri keuangan syariah masih akan dihadapi sejumlah negara seperti Indonesia, sedangkan di Nigeria dan Tunisia mendapat hadangan di tataran politik. “Banyak peluang bagi negara-negara di ASEAN untuk mempromosikan keuangan syariah, dimana industri halal sekarang juga mulai tumbuh pesat di kawasan itu. Industri halal dan keuangan syariah saling melengkapi satu sama lain,” ujar Mughal. Sementara, usaha kecil dan menengah dapat diperleh dukungan dengan konsep keuangan syariah yang tentunya bertujuan mengurangi kemiskinan di negara-negara ASEAN.

Dengan total populasi sekitar 600 juta jiwa dengan jumlah penduduk muslim diatas 40 persen (240 juta) merupakan indikator pasar potensial bagi pertumbuhan keuangan syariah. Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam telah memiliki industri yang menawarkan jasa keuangan syariah seperti perbankan syariah, asuransi syariah, sukuk, dan islamic funds, sementara Filipina dan Thailand dinilai sebagai pasar potensial keuangan syariah di masa mendatang.

“Ada peluang untuk mempromosikan keuangan syariah di Filipina dengan jumlah penduduk sebanyak 100 juta jiwa dimana 7 persennya adalah muslim. Pemerintah Filipina juga mulai memperhatikan industri ini dan jika hal itu terwujud maka akan menggairahkan industri bank dan asuransi syariah,” jelas Mughal.