Bisnis Online Syariah

Industri Kreatif Berbasis Teknologi Terkendala Pembiayaan

[sc name="adsensepostbottom"]

Industri kreatif acapkali menghadapi kendala pendanaan dalam mengembangkan usahanya. Di Indonesia sendiri sudah mulai banyak bisnis start-up yang berdiri dengan permodalan berasal dari ventura atau kehadiran angel investor. Namun jumlahnya masih belum banyak. Oleh karena itu, perbankan pun terus didorong untuk dapat menyalurkan pembiayaan ke industri kreatif termasuk yang berbasis teknologi.

Presiden Komisaris Trans Vision, Peter F Gontha, mengatakan sekarang ini sebagian besar perbankan menyalurkan pembiayaan ke perusahaan yang berkapasitas besar. Di sisi lain, di Indonesia pun belum ada hukum yang jelas mengenai angel investor. Padahal, bisnis start-up banyak yang membutuhkan pendanaan untuk pengembangan usahanya. Peter menambahkan di luar negeri, angel investor sudah punya hukum yang jelas dan bisa membiayai bisnis start-up hingga 1 juta dolar AS.

Bisnis Online Syariah“Jadi di sana perbankan membantu angel investor untuk melakukan due diligence, hukumnya bagaimana karena angel investor ini merupakan badan hukum yang jelas, yang tujuannya ingin berinvestasi dan nanti harapannya pengembaliannya bisa berlipat ganda. Orang Indonesia ini sangat kreatif, jadi hendaknya bank juga bisa membantu,” ungkap Peter, dalam Seminar Membangun Jiwa Kewirausahaan Berbasis Ekonomi Kreatif dan Teknologi di Indonesia Banking Expo, Jumat (29/8).

Di kesempatan terpisah, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, mengakui isu yang dihadapi industri ekonomi kreatif adalah pembiayaan dan investasi. Model pembiayaannya menjadi masalah dan agak sulit dibiayai karena barangnya tidak terlihat dan sudah diprediksi cash flow-nya, seperti film dan animasi. Di perbankan sendiri terkendala pada regulasi pengelompokan industri. “Bank Indoneia belum punya definisi atau klasifikasi mengenai industri kreatif. Belum lagi berbicara masalah jaminan pembiayaan yang harus fisik. Nah, bagaimana mengembangkan atau menilai jaminan yang berupa hak cipta?Apa itu cukup sebagai jaminan?,” ujar Mari.

Ia menambahkan saat ini memang mulai muncul pembiayaan alternatif seperti crowdsourcing, seed capital atau ventura. Di luar negeri, sistem pembiayaan alternatif tersebut sudah lebih mature. “Biasanya dimulai di seed capital dan keluarnya bisa ke pasar modal dan perbankan, jadi ada proses disana. Regulasi mengenai pembiayaan alternatif untuk industri kreatif ini perlu disosialisasikan,” kata Mari.

Sementara, Chief Executive Officer dan Founder Bubu Kreasi Perdana, Shinta Dhanuwardoyo, menilai ekosistem yang mendukung ekonomi kreatif belum komplit. “Dari sisi pendanaan sulit, infrastruktur belum yang terbaik. Tapi, yang perlu dipelajari adalah bagaimana membeli ‘pisang hijau’, bagaimana mem-value start up company. Jadi seharusnya juga ada lebih banyak lagi angel investor dari sisi mentoring, atau seed funding. Dan jika melakukan angel investing kalau bisa punya passion sama dengan yang dibantu,” ujar Shinta.

Global Player
Shinta menambahkan dengan semakin banyaknya pengguna internet di Indonesia membuat potensi industri kreatif berbasis teknologi sangat besar. Namun hendaknya pengguna internet di Indonesia janganlah hanya menjadi user, tetapi mulai berkembang menjadi pemain global.

Shinta menuturkan dirinya sendiri kini sedang menjadi angel investor pada dua bisnis, yaitu Catfiz Messenger dan Dread Out. Catfiz Messenger dikembangkan oleh dua programmer asal Surabaya dan sudah diunduh sebanyak 6,5 juta di 50 negara. Sekitar 40 persen penggunanya ada di negara Arab. “Catfiz ini menggunakan PIN-based. Banyak juga penggunanya yang ingin PIN cantik dan bahkan mau sampai bayar 25 dolar per PIN. Usernya di India dan Arab juga sampai ada yang membuat video mengenai Catfiz dan mengunggahnya ke You Tube ,” jelas Shinta. Kelebihan Catfiz dari messenger lainnya adalah grupnya bisa menampung hingga 1000 kontak dan mentransfer file hingga 40 gigabyte.

Usaha kreatif lainnya adalah Dread Out yaitu survival game horor Indonesia yang dikembangkan oleh programmer di Bandung. Shinta memaparkan game tersebut kini sudah mendapat dukungan dari gamer dunia. “Dalam mengembangkan game ini mereka menawarkan pre-payment ke pengguna game dan dari sana mereka bisa mengumpulkan 30 ribu dolar AS dalam 40 hari,” cetus Shinta.

Mari menuturkan pariwisata dan ekonomi kreatif sebenarnya punya daya saing dan dalam posisi tumbuh pesat dan berkelanjutan dengan baik. Dalam dua tahun terakhir termasuk pada semester I 2014 pertumbuhan wisata dan ekonomi kreatif lebih tinggi atau sama dengan pertumbuhan nasional. “Ekonomi kreatif tumbuh sekitar 5,1-5,2 persen sama dengan pertumbuhan ekonomi nasional, sedangkan pariwisata tumbuh di atas 6 persen. Keduanya memberikan kontribusi 11 juta lapangan pekerjaan dan devisa,” kata Mari. Wisatawan asing yang datang ke Indonesia menyumbang devisa 10 miliar dolar. Sementara ekspor industri kreatif juga berkontribusi sebesar 10 miliar dolar.