Kondisi perekonomian global saat ini memperlihatkan beberapa negara mengalami perlambatan, namun ada pula yang menunjukkan stabilitas ekonomi.

Menurut Ekonom Destry Damayanti, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejauh ini melambat, tapi masih dalam taraf yang relatif stabil. “Diperkirakan akhir 2015 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,8 persen,” katanya dalam Investor Gathering 2015, awal pekan ini.
Pada tahun depan ia pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,1-5,3 persen. Namun, ada beberapa faktor ekonomi global yang harus diperhatikan tahun depan. Pertama, normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat. “Amerika arahnya sudah semakin percaya diri. Dengan ekonomi yang semakin membaik, Fed akan menaikkan suku bunga,” ujar Destry.
Kedua, perlambatan ekonomi Tiongkok. Destry mengungkapkan indikator perekonomian di Tiongkok terus mengalami penurunan, karena itu baik Dana Moneter Internasional maupun Bank Dunia masih memperkirakan perekonomian Tiongkok tahun depan masih akan melambat. Baca: 2016, Waspadai Perlambatan Ekonomi Tiongkok
“Mereka berat sekali mendorong daya beli masyarakat dan investasi karena yang paling dominan peran pemerintah disana, padahal kondisi pemerintah di Tiongkok sedang berat. Kami perkirakan yuan melambat tahun depan, walau IMF sudah memasukkan yuan sebagai standar mata uang dunia,” jelas Destry.
Faktor global ketiga adalah harga komoditas yang diperkirakan akan tetap stabil atau bahkan cenderung menurun karena pertumbuhan ekonomi global belum optimal. Sementara, dari sisi suplai masih melakukan produksi karena memberlakukan persyaratan minimum yang harus diproduksi. Baca: Cegah Harga Komoditas Mahal, Kemendag Pangkas Rantai Distribusi
Destry menuturkan harga komoditi terus mengalami tekanan dan akibatnya fluktuasi terjadi hampir di seluruh negara khususnya negara berkembang. Yang paling parah mengalami depresiasi adalah Brasil yang turun hingga 40 persen, Malaysia 21 persen, dan Indonesia antara 12-13 persen. “Ini menjadi risiko bagi Indonesia karena ekspor Indonesia masih berupa komoditi, sehingga kalau harga komoditi diperkirakan belum membaik maka akan berdampak pada neraca pembayaran,” pungkasnya.

