Dalam beberapa waktu terakhir ini mata uang dolar AS kian menguat, sementara nilai mata uang di wilayah lainnya melemah, tak terkecuali di Indonesia.

Hal lainnya adalah karena penggelontoran injeksi likuiditas moneter dari Bank Sentral Eropa dan Bank of Japan. Perry mengatakan ultra quantitave easing yang dilakukan keduanya tidak hanya menambah likuiditas tapi juga memperlemah mata uang euro dan yen terhadap dolar. “Tahun lalu euro melemah terhadap dolar AS sekitar 13,5 persen, yen tahun lalu melemah 12-13 persen, rupiah melemah 1,8 persen. Artinya rupiah memang melemah tapi menguat terhadap euro dan yen kurang lebih sekitar 11 persen,” jelas Perry.
Menurutnya, fenomena qunatitave easing itu turut menambah likuiditas, namun karena ekonomi belum menyerap maka semakin memperlemah euro dan yen. “Seluruh negara emerging mengalami fenomena ini,” tukas Perry. Oleh karena itu, lanjut Perry, BI akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar sesuai fundamentalnya.
- Asosiasi DPLK dan DPLK Syariah Muamalat Inisiasi Sinergi Ekosistem Syariah bagi Sektor Informal
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
- BCA Syariah dan Istiqlal Halal Center Serahkan Sertifikat Halal untuk 49 UMKM
- CIMB Niaga Raih Tiga Penghargaan Bergengsi di Asian Banking & Finance Awards 2026
Ia mengakui dalam 2-3 minggu terakhir ada tekanan terhadap nilai tukar rupiah. BI pun, tambah Perry, tidak segan mengintervensi pasar valas agar penyesuaian dalam nilai tukar dilakukan secara gradual dan tertata. “Dalam dua minggu terakhir BI melakukan intervensi di pasar valas, apalagi tingkat depresiasi rupiah terhadap beberapa mata uang lain melemah. BI fokus memastikan nilai tukar bergerak sesuai fundamentalnya,” kata Perry.

