Salah satu tantangan perbankan syariah adalah di sisi dukungan pemerintah.

Di sisi lain, menurut Imam, bank syariah pun masih memiliki pekerjaan rumahnya masing-masing. Dalam Bincang Ramadhan 2016 Jurnalis Ekonomi Syariah bertema ‘Sinergi Melecut Industri Keuangan Syariah’ pada Selasa petang (21/6), Imam pun menyebutkan beberapa hal yang masih menjadi tantangan perbankan syariah.
“Untuk perbankan syariah pekerjaan rumah terbesarnya adalah kualitas aktiva. Kedua, efisiensi yang masih lebih rendah dibanding bank konvensional. Ketiga, jika bicara tentang produk ini memang masih relatif terbatas tapi setidaknya move on. Lalu ada isu SDM, dukungan pemerintah dan awareness masyarakat,” paparnya.
Ia menjelaskan, di sisi sumber daya manusia (SDM) saat ini kebutuhan SDM masih dipenuhi dari SDM bank konvensional atau pindahan dari bank syariah eksisting. “Mudah-mudahan kalau program studi (prodi) perbankan syariah mulai banyak, kebutuhan SDM ini akan dipenuhi dari prodi itu,” harap Imam.
Sementara terkait efisiensi, Imam menjelaskan ada beberapa langkah mitigasi yang paling memungkinkan untuk menekan efisiensi, salah satunya adalah sinergi dengan bank induk. “Untuk BNI Syariah sinergi dengan induk ini cukup efektif menurunkan rasio BOPO (beban operasional berbanding pendapatan operasional),” tukasnya.
Di sisi awareness, ungkapnya, harus diakui bahwa awareness masyarakat terhadap perbankan syariah masih rendah. Di lain pihak, dukungan pemerintah pun diharapkan hadir demi mendorong perkembangan industri perbankan syariah. “Sebenarnya yang diharapkan praktisi perbankan, kami tidak menuntut banyak. Paling tidak ada batu loncatan yang bisa dikerjakan, the same level of playing field, jadi treatment-nya seimbang dengan yang lain,” pungkas Imam.
[bctt tweet=”Diakui bahwa awareness masyarakat terhadap perbankan syariah masih rendah ” username=”my_sharing”]

