Ini Wajah Perbankan Syariah Di Tahun 2018

[sc name="adsensepostbottom"]

Memasuki 2018, Perbankan syariah nasional diprediksi tumbuh positif & Berteknologi Tinggi

Dalam paparan Proyeksi Perbankan Syariah 2018 oleh Karim Consulting Indonesia (KCI), Presiden Direktur Karim Consilting Indonesia Adiwarman Karim menjelaskan, 2018 akan jadi titik tolak bagi perbankan syariah. Perbankan syariah akan tumbuh lebih baik setelah selama 2015-2017 mengalami masa sulit.

Pakar ekonomi syariah, Adiwarman Karim mengatakan, akselerator dari pertumbuhan aset bank syariah adalah  kehadiran financial technology (fintech).

“Tahun 2018  juga akan diwarnai oleh perkembangan fintech syariah. Dewan Syariah Nasional (DSN) sudah ada dua permintaan fintech syariah yang sifatnya B to B,” kata Adiwarman pada Outlook Perbankan Syariah 2018″ di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Rabu, 8 November 2017.

Beliau menjelasakan bahwa fintech di  2018 bukan lagi menjadi kompetitor baru, akan tetapi menjadi kolaborator dengan bank syariah.

Menurutnya, saat ini bank syariah kini sudah mengurangi pembukaan cabang karena berbiaya tinggi. Begitu pula dalam pengembangan pembiayaan Usaha Makro Kecil Menengah (UMKM) melalui cabang saat ini agak sulit.

Oleh karena itu, fintech akan digunakan untuk bisa mendekatkan akses nasabah UMKM kepada bank. Namun tentunya, kata Adiwarman, tidak hanya soal akses tapi fintech bisa membantu bank monitoring dan scoring kredit.

Selain itu pertumbuhan bank syariah pada tahun 2018 akan di dukung juga dengan banyak dorongan dari Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) antara lain inisiasi pembentukan bank BUMN syariah besar. Ada juga integrasi zakat, pengembangan gaya hidup halal yang berdampak pada perbankan syariah, dan pengembangan peran wakaf melalui lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) ‘Bank Wakaf’.

”Pada tahun 2018 Kami memprediksi akan ada penanaman modal negara plus tambahan modal dari induk pada salah satu bank syariah nasional sehingga bank syariah tersebut jadi bank BUMN syariah besar selain itu ada kemungkinan penggabungan satu bank syariah dengan UUS satu bank yang punya bisnis utama yang sama di pembiayaan perumahan dimana akan membawa angin segar bagi perbankan syariah nasional. ” kata Adiwarman di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Rabu, 8 November 2017.

Karim Consulting Indonesia (KCI)  juga melihat konversi Bank NTB di tahun 2018 menjadi bank syariah penuh akan meningakatkan market share perbankan syariah nasional.

”Adanya tambahan aset dari pembentukan bank syariah BUMN, merger, dan konversi bisa menaikkan pangsa pasar perbankan syariah sekitar delapan persen. Tapi kalau tidak, hanya sekitar enam persen,” tutur Adiwarman.

Karim Consulting Indonesia (KCI) memprediski tingkat pengembalian aset (ROA) akan mencapai 3,39 persen dan aset Rp 462,03 triliun. Pada skenario optimistis, ROA perbankan syariah akan mencapai 4,09 persen dan aset Rp 501,09 trilun. Pada 2018 tingkat pembiayaan bermasalah (NPF) juga akan membaik ke kisaran 1,5-1,8 persen. ”Tapi itu semua akan tergantung aksi korporasi,” ucap Adiwarman.

Kehadiran LKMS ‘Bank Wakaf’ juga jadi contoh bagaimana pembiayaan murah bisa dinikmati masyarakat sekitar pesantren. Tiap LKMS akan menerima sekitar Rp 6 milar yanga setengah dananya akan disimpan sebagai dana abadi deposito syariah dengan imbalan lima persen dan sisa dananya akan jadi pembiayaan ke nasabah dengan margin tiga persen per tahun. ”Dana untuk pesantren ini bukan dari bank atau pemerintah, tapi konglomerat,” kata Adiwarman.