Inilah 3 Prinsip Dakwah Pasca Aksi 212

[sc name="adsensepostbottom"]

Niat berdakwah harus menjadi titik pertama yang harus diperhatikan. Tiga prinsip dakwah Mohammad Natsir pun harus menjadi pegangan para dai.

Mantan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Syuhada Bahri mengatakan, bahwa pendiri partai Masyumi, Mohammad Natsir dalam berdakwah maupun dalam memberikan pelatihan kepada dai-dai,  selalu menitik beratkan tiga prinsip yaitu seorang dai harus menjaga nawaitu, harus tahu pukul berapa sekarang, dan harus terbenteng di hati umat.

“Seorang dai harus menjaga nawaitu, harus tahu pukul berapa sekarang, dan harus terbenteng di hati umat. Tiga prinsip itu tepat menjadi pegangan berdakwah, terutama setelah aksi 212,” ungkap Syuhada pada  diskusi dakwah bertajuk “Strategi dan Perspektif Dakwah Pasca 212 : Bertolak dari buku fiqhud Muhammad Natsir,” di Kantor DMI, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (16/1).

Syuhada menjelaskan, dakwah secara praktis dinilai harus bisa berlandaskan tiga prinsip tersebut. “Niat berdakwah harus jadi titik tekan pertama yang harus diperhatikan, karena dalam kenyataannya banyak dai yang nawaitunya berubah dari dakwah itu sendiri,” ucapnya.

Syuhada pun menegaskan, bahwa dai tidak boleh pula berhenti mengikuti perkembangan yang ada, karena pemahaman situasi sangat erat dengan seperti apa dakwah akan dilakukan atau disampaikan kepada umat.

Menurutnya, kesadaran akan perkembangan dakwah yang ada harus dimiliki setiap dai, termasuk untuk mendeteksi adanya ancaman. Dai-dai saat ini harus bisa membenteng di hati umat, jangan sampai terbenteng di hati pejabat.

“Benteng itu harus dipupuk dengan mau turun dan menyapa hati umat dengan ahlak, dan menyapa akal umat dengan ilmu. Dai itu harus bisa menyapa dan membela umat, setidaknya itu yang senantiasa diingatkan Mohammad Natsir,” tegas Syuhada mengingatkan.