Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dari ekonomi global yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan negara lainnya.

Demikian disampaikan Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti pada media gathering Prudential dan Market Outlook 2016 di Hotel Shangrila, Jakarta, Senin (14/3).
Pertama, pertumbuhan ekonomi global belum optimal . Faktor ini akan menjadi risiko di sektor eksternal Indonesia khususnya berkaitan dengan ekspor-impor.
Faktor kedua adalah kenaikan fed rate. Menurut dia, ekonomi Amerika Serikat (AS) sudah menunjukkan perbaikan dan sudah dibuktikan dengan kenaikan fed rate di akhir tahun 2015.
- BMM Salurkan 14 Ribu Liter Air Bersih bagi Warga Terdampak Kekeringan di Jawa Barat
- CIMB Niaga Apresiasi Nasabah dan Seniman Musik Tanah Air via Konser Kejar Mimpi untuk Indonesia “Simfoni Suara Hati”
- CIMB Niaga Hadirkan Pengalaman OCTO di Halte GBK dan Beragam Solusi Digital
- Bank Mega Syariah Gandeng Pegadaian Perluas Akses Layanan Haji dan Umrah
Faktor ketiga, perlambatan ekonomi China. Ini sangat menentukan bukan hanya buat negara berkembang, tapi juga negara maju. Bahkan, presiden China diminta untuk bisa lebih mendorong perekonomian domestiknya.
“China diharapkan ada kelonggaran kebijakan moneter dan fiskal secara signifikan supaya bisa mendorong memberikan stimulus buat pertumbuhan ekonomi global kedepannya,” ungkap Destry.
Faktor terakhir, penurunan harga minyak dan komoditi. Indonesia kata Desty, tidak bisa berharap dari pergerakan komoditi. Komoditi harus mencapai normalisasi harga karena permintaan terbesar adalah China. China sekarang menjadi negara nomor 2 setelah AS.

