Islam al Wasathiyyah, Bangun Peradaban Umat Muslim Indonesia

[sc name="adsensepostbottom"]

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menawarkan konsep Islam al Wasathiyyah sebagai tema utama Musyawarah Nasional (Munas) IX yang digelar di Surabaya Jawa Timur. Islam al Wasathiyyah diharapkan mampu menjadi rujukan umat Islam Indonesia maupun di dunia.

Ketua Umum MUI Din Syamsuddin.
Ketua Umum MUI Din Syamsuddin.

Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menyatakan jika sebelumnya ada Islam Nusantara (NU) dan Islam Berkemajuan (Muhammadiyah), sekarang Munas IX MUI mengangkat tema Islam al-Wasathiyyah untuk Indonesia dan dunia berkeadilan dan berkeadaban. Ketiganya ini menurut Din saling melengkapi dalam mewujudkan kemaslahatan umat.

Din pun menjelaskan, Islam Wasathiyyah untuk Indonesia dan dunia berkeadilan dan berkeadaban merupakan pandangan dari dunia Islam yang memiliki watak yang beragam. Konsep Islam Wasathiyyah ini sedang hangat dibicarakan di dunia international.

Islam Wasathiyyah, kata Din, menekankan kasih sayang dan perdamaian, sebuah wawasan yang menekankan bahwa umat manusia punya kecenderungan untuk berada pada jalan tengah dan jalan lurus.”Prinsip Islam Wasathiyyah ialah prinsip jalan tengah, jalan lurus dan moderat yang bertumpu pada tauhid. Wasathiyyah berarti menolak segala bentuk ekstrimisme dan Thoghut (melampaui batas),” kata Din.

Analoginya, tegas Din, tatanan makrokosmos dan mikrokosmos yang membawa ke titik sentral, median atau middle position. Inilah ajaran Islam yang menolak segala bentuk ekstrimitas, thaghut-thaghut baik dalam ekonomi, sosial, politik, dan budaya yang bertentangan dengan muatan Islam.

Konsep ini, kata Din, mampu memberikan solusi terhadap permasalahan dunia, termasuk Indonesia yang kini mengalami kerusakan yang bersifat akumulatif. Kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, dan kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan sistem yang tidak berpihak pada nilai-nilai agama dan moral. “Dunia sekarang bertumpu pada liberalisme, humanisme sekuler yang melahirkan sistem ekonomi budaya sekuler. Kita harus kembali kepada Tuhan dan aturan pencipta, yaitu Al Quran,” papar Din.